Kondisi Burung Liar di Indonesia Kian Mengkhawatirkan

Burung Liar

Jakarta, Satuju.com - Sejumlah burung di Indonesia kini berstatus Kritis dan semakin sulit dijumpai di alam. Jenis-jenis seperti cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), jalak suren jawa (Gracupica jalla), hingga burung paruh bengkok menjadi contoh nyata dampak maraknya penangkapan liar.

Jihad, Senior Biodiversity Officer Burung Indonesia, menegaskan bahwa penurunan populasi terjadi seiring tingginya tren memelihara burung. “Cucak rawa misalnya, justru populasinya lebih baik di Singapura dibanding Indonesia,” ujarnya, Jumat (19/9/2025).

Menurutnya, meski belum ada data pasti, indikasi penurunan populasi terlihat jelas dari banyaknya burung yang jarang ditemui di hutan, tetapi justru banyak dijual di pasar burung maupun penangkaran komersial. Ia mengingatkan, masyarakat sebaiknya tidak membeli burung hasil tangkapan alam, melainkan hanya dari penangkaran bersertifikat.

Upaya Pencegahan Perburuan

Untuk mencegah kepunahan, penegakan hukum terhadap pemburu perlu dijalankan secara konsisten agar menimbulkan efek jera. Burung hasil sitaan sebaiknya dikembalikan ke habitat alaminya, dengan memastikan habitat tersebut bebas dari ancaman perburuan. Selain itu, hutan sebagai rumah bagi burung harus dijaga dari kerusakan dan alih fungsi lahan.

“Burung pada dasarnya satwa liar, mereka hidup bebas di alam, bukan di dalam sangkar. Kita harus menciptakan habitat yang aman agar mereka bisa tetap berkembang biak,” kata Jihad.

Kekayaan Spesies Burung Indonesia

Data Burung Indonesia mencatat, Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai negara dengan jumlah spesies burung terbanyak, yakni 1.835 jenis, di mana 500 di antaranya merupakan endemik. Hasil evaluasi 2025 menunjukkan, ada 30 spesies yang mengalami perubahan status keterancaman: 12 spesies memburuk, sedangkan 18 spesies membaik.

Dari 12 spesies yang kondisinya memburuk, 11 di antaranya merupakan perubahan nyata akibat penurunan populasi maupun meningkatnya ancaman di lapangan.

Perburuan untuk Peliharaan

Tony Sumampau, Sekretaris Jenderal PKBSI, mengungkapkan bahwa cucak rawa menjadi salah satu burung paling diburu karena popularitasnya sebagai burung kicau. “Di alam makin jarang terlihat, tetapi di sangkar masih banyak,” jelasnya, Rabu (27/8/2025).

Namun, cucak rawa memiliki laju perkembangbiakan yang lambat dan cenderung soliter, sehingga sulit berkembang biak di penangkaran kecil. Kondisi ini semakin memperbesar ancaman kepunahan.

Sementara itu, Jochen Menner, kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), menyoroti adanya spesies langka yang kurang mendapat perhatian, seperti kacamata wangi-wangi (Zosterops paruhbesar) dari Wakatobi. Burung endemik ini terancam hilang bila tidak segera dilestarikan.

PCBA sendiri telah melakukan pengembangbiakan terhadap beberapa jenis, termasuk jalak suren. Pada 2022, mereka berhasil melepasliarkan 40 ekor di kawasan hutan Taman Safari Indonesia Prigen. Ironisnya, meskipun jumlah jalak suren di penangkaran pribadi dan komersial diperkirakan mencapai 1,1 juta ekor, keberadaannya di alam hampir tidak dijumpai.

Jenis lain seperti murai batu maratua (Copsychus barbouri), murai batu medan, murai batu kangean, hingga ekek geling jawa juga masuk daftar spesies yang perlu mendapat perhatian serius.

“Fenomena silent forest atau hutan sunyi menjadi tanda nyata berkurangnya keanekaragaman burung di alam,” tegas Jochen.