“Sepuluh Purbaya” Versi Said Didu: Upaya Membongkar Kotak Pandora Ekonomi Nasional

Menkeu Purbaya

Jakarta, Satuju.com – Muhammad Said Didu, birokrat dan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, menilai langkah Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), telah membuka “kotak pandora” kebijakan ekonomi yang selama ini dianggap baik-baik saja. Hal itu disampaikan Said Didu dalam acara Rakyat Bersuara, di mana ia mengkritisi dominasi kebijakan fiskal yang dijalankan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selama dua dekade terakhir.

“Selama ini, Sri Mulyani memonopoli kebenaran kebijakan fiskal, seakan-akan itulah kebenaran. Datanglah Purbaya dengan gaya yang netral dan membuka kotak pandora terhadap hal-hal yang selama ini seakan baik-baik saja,” ujar Said Didu.

Ia menyoroti hasil dari kebijakan fiskal yang dijalankan Sri Mulyani, dengan menyebutkan peningkatan signifikan utang negara dan beban keuangan negara. “Selama 20 tahun, utang naik dari Rp8.000 triliun menjadi Rp24.000 triliun, cicilan utang dari Rp400 triliun menjadi Rp1.600 triliun, dan bunga utang dari 2% menjadi 6–7%. Belum lagi utang BUMN, utang pensiunan, serta utang yang ditunda,” ungkapnya.

Menurut Said Didu, gaya kepemimpinan Purbaya yang tenang dan ilmiah menunjukkan adanya dukungan politik dari Presiden Prabowo Subianto. “Saya yakin ini perintah Pak Prabowo. Beliau ingin menjadikan Purbaya sebagai contoh menteri lain untuk membuka kotak pandora lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Said Didu menyebut bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak sosok seperti Purbaya untuk membongkar berbagai masalah struktural di pemerintahan. Ia bahkan menyebut ada “10 kotak pandora” yang perlu dibuka untuk memperbaiki tata kelola negara.

“Untuk membuka mafia tambang seluas 4,6 juta hektar tambang ilegal, pelepasan 6 juta hektar lahan hutan dalam 10 tahun terakhir, hingga persoalan ekspor pasir, perikanan, bantuan sosial, jalan tol, dan proyek strategis nasional — semuanya butuh sosok seperti Purbaya,” tegasnya.

Ia menilai, jika pemerintahan Prabowo benar-benar berkomitmen untuk membenahi kesalahan masa lalu tanpa menutup-nutupi, maka dibutuhkan banyak pejabat berani yang berperan seperti Purbaya. “Saya berharap semua kita menjadi Purbaya yang membongkar semua yang bermasalah untuk memperbaiki Indonesia. Kita butuh ‘sepuluh Purbaya’ untuk mereset negeri ini,” tutup Said Didu.