“Pesawat Kosong” dan Harapan yang Terisi di Tengah Banjir Aceh
Ferry Irwandi
Penulis: Andrian Saputra
Satuju.com - Musibah banjir bandang di Aceh Tengah dan Bener Meriah tak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga memutus urat nadi ekonomi. Di tengah situasi bencana, saat banyak pihak fokus pada distribusi bantuan sembako, muncullah Ferry Irwandi, sang "anak kemarin sore" versi DPR, membawa sebuah perspektif yang sangat fundamental: ekonomi harus berputar, bahkan saat bumi sedang menangis.
Ferry menghabiskan berhari-hari di sana, melakukan observasi dan riset lapangan. Di balik lumpur dan isolasi jalur darat, ia menemukan sebuah fakta ironis yang tersembunyi di lumbung-lumbung petani: cabai berkualitas super yang melimpah ruah. Aceh Tengah dan Bener Meriah, sentra komoditas, masih produktif. Namun, isolasi yang parah menciptakan kondisi ekonomi yang mematikan: Over Supply.
Bayangkan, di satu sisi ada kebutuhan, di sisi lain ada stok, tetapi tidak ada jalur distribusi. Bagi petani, cabai segar adalah komoditas yang rentan.
Mereka tidak bisa menahan barang lama-lama. Inilah yang disebut Ferry sebagai perpaduan antara supply shock dan in-elastisitas yang menghasilkan Price Collapse harga anjlok tajam karena kelebihan pasokan yang terpaksa dijual segera sebelum kualitasnya memburuk. Petani tercekik, meskipun hasil panen mereka luar biasa.
Di sinilah kecerdasan ide Ferry bersinar. Ia melihat celah dalam logistik bantuan kemanusiaan.
Ide Brilian: Memanfaatkan "Pesawat Kosong" sebagai Jembatan Ekonomi
Setiap hari, pesawat-pesawat kecil atau bahkan kargo mendarat di Bandara Rembele (Takengon) membawa bantuan dari Jakarta. Pesawat-pesawat ini seringkali kembali ke Jakarta dalam kondisi kosong melompong.
Mengapa tidak memanfaatkan ruang kosong itu?
Ide Ferry adalah kolaborasi cerdas yang menyatukan dua kebutuhan krusial:
* Logistik Bantuan: Lembaga kemanusiaan kesulitan mendistribusikan bantuan ke Aceh Tengah karena akses darat terputus. Mereka membutuhkan jalur udara.
* Distribusi Komoditas: Petani Aceh Tengah/Bener Meriah butuh menjual cabai mereka ke pasar besar seperti Jakarta untuk menghindari kerugian.
Solusinya: Pesawat dari Jakarta membawa bantuan (sembako, dll.) ke Rembele. Ini menekan biaya logistik bagi yayasan/relawan. Setelah bantuan diturunkan, pesawat yang sama mengisi lambungnya dengan cabai segar hasil petani dari Rembele, membawanya kembali ke Jakarta.
"Cost-nya bisa bagi dua. Ekonominya jalan, pengusahanya profitnya oke, distribusinya jalan, masyarakat ekonominya mulai hidup."
Ini adalah solusi classical supply side economics yang dipraktekkan dengan sentuhan humanis. Petani mendapat harga yang layak (Rp25.000 per kilo), pengusaha kargo melihat demand dan opportunity, dan yang terpenting, roda perekonomian lokal yang sempat mati mulai berputar kembali.
Kabar baiknya, gagasan ini tidak hanya berhenti di diskusi. Per hari itu juga, pesawat kargo mulai beroperasi, mengangkut cabai dari Rembele menuju Jakarta. Ini adalah bukti nyata bahwa ketika demand dan supply bertemu, didukung oleh inisiatif yang cerdas, kesulitan logistik bisa diatasi.
Aksi Ferry Irwandi bukan sekadar solusi distribusi; ini adalah pendekatan berbasis keberlanjutan ekonomi di tengah krisis. Ia tidak hanya memberi ikan (bantuan), tetapi memperbaiki alat pancing (distribusi dan pasar) yang rusak.
Inilah solusi yang lahir dari ketajaman analisis, empati, dan keberanian bertindak melampaui birokrasi kaku sebuah tindakan yang seharusnya menjadi peran utama pihak yang berwenang.
Penutup
Saat infrastruktur darurat yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat masih teronggok dalam lumpur, solusi cemerlang untuk memutar kembali miliaran rupiah ekonomi lokal justru datang dari perhitungan ruang kosong di lambung pesawat kargo bukti bahwa terkadang, akal sehat seorang "anak kemarin sore" jauh lebih cepat dan efisien dalam menyelamatkan rakyat daripada kebijakan lamban para tetua di Istana.

