ANATOMI JIWA PENYEWA SUARA: Psikopatologi Buzzer di Lingkaran Kekuasaan

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Pemerhati Psikologi Massa & Perilaku Politik. (Lhynaa Marlinaa) 

Satuju.com - Mengapa seseorang bersedia menggadaikan intelektualitasnya untuk membela sesuatu yang secara kasat mata penuh kejanggalan? Apakah semata karena uang? Jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam kasus buzzer yang diundang ke lingkaran privat kekuasaan saat krisis kepercayaan (isu ijazah) memuncak, terdapat mekanisme psikologis kompleks yang bekerja.

Berikut adalah bedah profil psikologis mereka:

1. Sindrom "Inner Circle" (Validasi Feodal)

Undangan makan di kediaman pribadi pejabat negara bukan sekadar acara makan-makan. Secara psikologis, ini adalah transfer status.
 * Mekanisme: Para buzzer ini, yang mungkin di kehidupan nyata tidak memiliki posisi politik formal, tiba-tiba merasa "diwongke" (dimanusiakan/dihargai) oleh orang nomor satu.
 * Dampak: Terbentuk ikatan emosional feodal. Mereka tidak lagi membela berdasarkan benar/salah, melainkan berdasarkan prinsip "hutang budi" dan perasaan bangga karena dianggap "orang dalam". Kritik terhadap "Tuannya" dirasakan sebagai serangan pribadi terhadap identitas baru mereka sebagai bagian dari elit.

2. Disonansi Kognitif & Rasionalisasi Akut

Banyak dari buzzer ini sebenarnya cerdas dan sadar akan kejanggalan data (seperti isu ijazah). Namun, mengakui bahwa idola mereka berbohong akan menghancurkan ego mereka.
 * Mekanisme: Terjadilah Disonansi Kognitif (ketidaknyamanan mental akibat pertentangan antara fakta dan keyakinan).
 * Solusi Mental: Untuk menghilangkan rasa tidak nyaman itu, mereka melakukan Rasionalisasi. Contoh narasi internal mereka: "Ah, biarpun ijazahnya bermasalah, yang penting kerjanya nyata," atau "Ini cuma serangan lawan politik yang dengki." Mereka menipu diri sendiri agar tetap nyaman membela kebohongan.

3. Agresi Defensif (Mekanisme Pertahanan Diri)

Perhatikan pola serangan mereka: kasar, menyerang fisik, dan mematikan karakter (character assassination).
 * Psikologi: Ini adalah tanda ketidakamanan (insecurity). Ketika seseorang tidak memiliki argumen logis (fakta ijazah) untuk membela diri, mekanisme pertahanan primitif mengambil alih: Marah.
 * Analisa: Semakin kasar bahasa seorang buzzer, semakin besar kepanikan di alam bawah sadarnya bahwa "Tuan" yang mereka bela sebenarnya salah. Kemarahan adalah topeng untuk menutupi rasa malu.

4. Deindividuasi & Difusi Tanggung Jawab

buzzer jarang bekerja sendirian; mereka bergerak dalam kawanan (kelompok/grup WhatsApp).
 * Mekanisme: Dalam psikologi sosial, ini disebut Deindividuasi. Mereka kehilangan rasa tanggung jawab moral pribadi karena merasa "hanya menjalankan tugas kelompok".
 * Dampak: Mereka tidak merasa berdosa saat menyebarkan hoaks atau membully pengkritik, karena beban dosa itu ditanggung ramai-ramai. "Kalau semua orang di tim melakukannya, berarti ini benar," adalah logika sesat yang mereka anut.

5. Oportunisme Transaksional (The Mercenary Mindset)

Pada level paling dasar, profil mereka adalah tentara bayaran.
 Motivasi: Tidak ada ideologi, yang ada hanya logistik. Bagi tipe ini, membela isu ijazah palsu hanyalah "proyek".
 Karakter: Tipe ini paling berbahaya karena tidak memiliki rem moral. Selama transfer lancar, narasi apa pun—bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun—akan mereka kunyah dan muntahkan kembali ke publik sebagai "kebenaran".

Para buzzer yang merapat saat isu ijazah meledak adalah kumpulan individu yang mengalami krisis identitas yang diselesaikan dengan validasi kekuasaan, serta pengidap kebutaan moral yang didorong oleh insentif ekonomi. Mereka bukan tidak tahu kebenaran, mereka hanya memilih untuk menjualnya.