Prabowo di Persimpangan Jalan: Membersihkan Negeri atau Memelihara Nepotisme
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Gate 25 Medina
(Refleksi Kepemimpinan Prabowo: Sebuah Analisis Politik)
Satuju.com - Prabowo Subianto, sebagai presiden RI ke-8 jelang memasuki 1 tahun lebin 2 bulan 10 hari per awal Januari 2026, atau kinerja memasuki tahun kedua kepemimpinannya. Namun, banyak kalangan yang masih mempertanyakan komitmennya dalam membersihkan pemerintahan dari korupsi dan nepotisme. Maka artikel ini akan menganalisis beberapa isu yang terkait dengan kepemimpinan Prabowo dan bagaimana ia dapat mengambil tindakan yang lebih tegas untuk meningkatkan kepercayaan publik.
Pengaruh Jokowi yang Masih Berkuasa
Salah satu isu yang paling menonjol adalah pengaruh Jokowi yang masih berkuasa dalam pemerintahan Prabowo. Meskipun Jokowi telah meninggalkan istana, namun banyak kebijakan dan keputusan yang masih dipengaruhi olehnya. Contohnya, beberapa menteri yang terlibat dalam kasus korupsi dan aparat yang bad law enforcement (Kapolri dan Jaksa Agung RI yang tidak presisi) nyatanya masih dipertahankan dalam kabinet Merah Putih.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang komitmen Prabowo dalam membersihkan pemerintahan dari korupsi.
Keterlibatan Gibran dalam Politik
Gibran, anak Jokowi, juga menjadi isu yang hangat dalam politik Indonesia. Banyak kalangan yang mempertanyakan legitimasi Gibran sebagai wakil presiden, mengingat dugaan ijazah palsu yang dimilikinya, setidak tidaknya Gubran ternyata level pendidikannya hanya SMP atau tidak memenuhi persyaratan minimal SMA atau sederajat dan diketahui terkait hubungan hukum kasus nopotismenya berdampak pamannya Anwar Usman diberhentikan melalui putusan MKMK sehingga berdasarkan logika sejarah hukum, Gibran tidak memenuhi batasan usia 40 tahun saat capres (Gibran cacat konstitusi) dan kasus akun kaskus yang menggunakan nama fufu fafa yang menghebohkan dengan status postingannya sering menghina- dinakan diri Prabowo dan anak tunggalnya serta keluarga besarnya, dimana tuduhan publik tendensi 90 persen lebih pemilik akun kaskus anonim dimaksud mengarah kepada sosok Gibran.
Namun terbukti atas kesemua sisi minus Gibran yang melanggar ketentuan hukum, adab dan moralitas serta melanggar prinsip Etika Kehidupan Berbangsa (TAP MPR RI 6 TAHUN 2001) dan nampak nyata minim kualitas iq nya saat besosialisasi, akan tetapi realitas Prabowo tidak sanggup mengambil tindakan yang tegas untuk mengenyahkan Gibran dari kursi wakil presiden, meskipun banyak partai politik yang mendukungnya utamanya partai Gerindra, PDIP dan PKS ditambah suara penolakan dari berbagai kelompok tokoh masyarakat terhadap Gibran "sang bocah memalukan".
Peluang Prabowo untuk Mengambil Tindakan
Prabowo memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan yang lebih tegas dan membersihkan pemerintahan dari korupsi dan nepotisme. Dengan dukungan partai-partai politik dan rakyat, Prabowo dapat menggergaji kekuatan Jokowi dan Gibran dari kursi pemerintahan. Namun, hal ini memerlukan keberanian dan komitmen yang kuat dari Prabowo sendiri.
Kesimpulan
Kepemimpinan Prabowo masih diuji oleh banyak kalangan. Untuk meningkatkan kepercayaan publik, Prabowo harus mengambil tindakan yang lebih tegas dan membersihkan pemerintahan dari korupsi dan nepotisme. Dengan demikian, Prabowo dapat membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang kuat dan berintegritas.

