Ekonomi Dunia 2026 Masih Rapuh, IMF Soroti Ancaman Resesi
Ilustrasi. (poto/net).
Jakarta, Satuju.com - Arah perekonomian dunia pada 2026 diperkirakan akan dibentuk oleh gejolak regional, tekanan global, serta meluasnya pemanfaatan teknologi baru.
Di tengah kondisi tersebut, risiko resesi masih menjadi bayang-bayang serius bagi banyak negara, termasuk kekuatan ekonomi utama dunia.
Meski terdapat sinyal perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, fondasi pemulihan global dinilai belum cukup kokoh untuk menahan guncangan baru.
Penilaian tersebut tercermin dalam laporan World Economic Outlook Dana Moneter Internasional (IMF) bertajuk Global Economy in Flux, Prospects Remain Dim.
IMF memang sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global seiring meredanya volatilitas pasar dan ketidakpastian perdagangan.
Namun, lembaga itu menegaskan bahwa laju pertumbuhan ke depan tetap melambat dibandingkan periode sebelumnya, dengan risiko yang masih condong ke arah negatif.
IMF menyoroti ketidakpastian kebijakan, kerentanan pasar keuangan, serta tekanan struktural di pasar tenaga kerja global sebagai faktor utama yang menjaga risiko ekonomi tetap tinggi.
Dalam konteks tersebut, sejumlah negara dipandang berada di ambang perlambatan ekonomi serius atau bahkan resesi pada 2026. Melansir dari laporan IMF, berikut negara-negara yang dinilai paling rentan menghadapi resesi.
Amerika Serikat
Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling banyak mendapat perhatian terkait potensi perlambatan ekonomi pada 2026.
Kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang diumumkan pada April dan dikenal sebagai "Liberation Day" sempat mengguncang pasar keuangan.
Dunia usaha merespons dengan menimbun barang sebelum tarif berlaku, memicu distorsi aktivitas ekonomi jangka pendek.
Kekhawatiran resesi muncul hanya beberapa bulan setelah Trump memulai masa jabatan keduanya, terutama ketika estimasi awal menunjukkan ekonomi AS menyusut pada kuartal pertama 2025.
Meski kecemasan tersebut mereda setelah PDB mencatat pertumbuhan kuat pada kuartal kedua dan ketiga, para ekonom menilai risiko struktural belum sepenuhnya hilang dan masih berpotensi berlanjut hingga 2026.
Ekonom senior Gary Shilling menilai konsumen AS berada dalam posisi rentan karena tingkat utang yang sangat tinggi.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi Amerika sebagai lingkungan yang cenderung datar dan mudah terguncang oleh kejutan, terutama jika gelembung kecerdasan buatan (AI) pecah.
Risiko ini menjadi signifikan mengingat saham berbasis AI kini menyumbang sekitar sepertiga kapitalisasi pasar indeks S&P 500.
Selain itu, ekonom Harvard Jason Furman mencatat bahwa investasi di sektor AI menyumbang lebih dari 90% pertumbuhan PDB AS pada paruh pertama 2025. Ketergantungan yang besar ini membuat potensi koreksi tajam di sektor AI berisiko menular ke seluruh perekonomian.
Dean Baker dari Center for Economic and Policy Research (CEPR) menegaskan bahwa runtuhnya gelembung AI merupakan ancaman terbesar bagi ekonomi AS. Menurutnya, hilangnya kekayaan saham dalam skala triliunan dolar dapat menekan konsumsi secara drastis.
Ditambah dengan tingginya leverage di sektor AI dan kripto, tekanan besar pada sistem keuangan dinilai hampir tak terhindarkan, dengan dampak lanjutan ke Eropa dan wilayah lain, meski Amerika Serikat diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak.
Eropa dan Inggris
Di kawasan Eropa, sejumlah ekonomi terbesar diproyeksikan tumbuh di bawah rata-rata global sebesar 3,1% yang diperkirakan IMF. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya dua kuartal berturut-turut kontraksi PDB, yang secara teknis sering digunakan sebagai definisi resesi.
Prancis dan Jerman masing-masing diperkirakan hanya tumbuh 0,9%, sementara Italia sekitar 0,8%. Secara keseluruhan, prospek zona euro dinilai lemah akibat kombinasi tingkat utang yang tinggi, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta dampak berkepanjangan dari perang Rusia di Ukraina.
Inggris relatif lebih terlindungi dari tekanan tarif setelah mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump pada Mei. Meski demikian, IMF tetap memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris pada 2026 menjadi 1,3% dari sebelumnya 1,4%.
Dean Baker menilai negara-negara Eropa secara umum akan menghadapi pertumbuhan lambat pada 2026, dan kebijakan fiskal yang terlalu fokus menekan defisit berpotensi mendorong kawasan ini ke jurang resesi.
"Negara-negara Eropa pada umumnya menghadapi pertumbuhan yang lambat pada 2026," kata Baker.
Namun, terdapat pula potensi penyeimbang. Baker menilai setiap langkah menuju penyelesaian konflik di Ukraina dapat memberikan dampak positif bagi Eropa.
Proses rekonstruksi negara tersebut berpeluang menciptakan dorongan permintaan yang signifikan dan membantu menopang aktivitas ekonomi kawasan.
China
Prospek ekonomi China juga dinilai rapuh memasuki 2026. IMF mencatat bahwa lebih dari empat tahun setelah pecahnya gelembung properti, sektor perumahan belum menunjukkan pemulihan yang solid.
Investasi real estat terus mengalami kontraksi, sementara perekonomian berada di tepi siklus deflasi berbasis utang.
Di luar sektor properti, muncul keraguan mengenai kemampuan China untuk terus mengandalkan ekspor manufaktur sebagai mesin pertumbuhan, terutama jika pengiriman ke Amerika Serikat terus melemah.
Pemerintah Beijing selama ini menggelontorkan subsidi besar ke sektor manufaktur, tetapi upaya tersebut belum cukup efektif dalam mendorong permintaan domestik.
Gary Shilling menilai ekonomi China berada dalam posisi sangat rentan menjelang 2026. Menurutnya, tekanan di sektor properti serta kebijakan pemerintah untuk mendorong konsumsi dan membalikkan deflasi belum menunjukkan hasil yang kuat dalam merangsang aktivitas belanja masyarakat.
Meski demikian, ia tidak memprediksi keruntuhan ekonomi dalam waktu dekat. IMF sendiri masih memperkirakan PDB China tumbuh sekitar 4,2% pada 2026.
Rusia
Rusia menghadapi tantangan ekonomi yang tidak kalah berat. Sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022, negara ini berada di bawah sanksi internasional yang ketat.
Lonjakan belanja publik akibat perang, ditopang oleh ekspor energi, sempat mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat pada 2023 dan 2024.
Namun, keberlanjutan model pertumbuhan tersebut mulai dipertanyakan. Pada 2025, laju ekonomi Rusia melambat tajam.
Data resmi menunjukkan pertumbuhan tahunan hanya sekitar 0,6% pada kuartal ketiga, sejalan dengan proyeksi IMF dan bank sentral Rusia. Untuk 2026, IMF memperkirakan pertumbuhan Rusia tetap terbatas di kisaran 1%.
Sejumlah analis menilai 2026 berpotensi menjadi titik krusial bagi Moskow. Tekanan pembiayaan perang yang berkelanjutan, potensi sanksi baru yang semakin mempersempit ruang ekspansi, serta kerentanan struktural di sektor keuangan dapat mendorong Rusia ke dalam perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Dengan risiko yang membayangi Amerika Serikat, Eropa, China, hingga Rusia, IMF menegaskan bahwa 2026 berpotensi menjadi tahun penuh ujian bagi perekonomian dunia. Ketahanan kebijakan fiskal dan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta kemampuan negara-negara beradaptasi terhadap perubahan struktural akan sangat menentukan arah pemulihan.

