Kaya di Mata Dunia, Miskin di Dalam Jiwa
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Saudaraku, tulisan ini untukmu. Untuk kamu yang mungkin sedang tersenyum lebar di depan kamera, atau yang sedang menunduk hormat di hadapan atasan demi sekeping proyek, padahal di belakang kau menikam kawan seiring.
Dari luar, hidupmu tampak sempurna. Mobil mengkilap, pakaian bermerek, dan pujian yang datang silih berganti. Orang-orang mungkin melihatmu sebagai definisi "sukses". Kamu pandai bersilat lidah, memutar fakta, dan mengambil apa yang bukan hakmu dengan cara yang begitu halus, bahkan mungkin dengan senyuman.
Tapi, mari bicara jujur sejenak. Matikan lampu kamarmu, letakkan topengmu, dan tanyakan pada hatimu sendiri: Apakah kamu benar-benar bahagia?
Terlihat Nyaman di Luar, Keropos di Dalam
Kamu mungkin bisa menipu dunia dengan pencitraanmu. Kamu bisa menjilat atasan atau orang berkuasa agar posisimu aman, sambil menginjak orang-orang kecil di bawahmu. Tapi tahukah kamu? Ada satu orang yang tak bisa kau tipu: Dirimu sendiri.
Uang hasil menipu dan menjilat itu memang manis di awal. Rasanya seperti candu. Mudah didapat, cepat terkumpul. Tapi perhatikanlah, uang itu memiliki sifat yang aneh. Ia "panas". Ia menguap begitu saja. Entah habis untuk biaya rumah sakit, habis untuk menutupi masalah lain, atau habis untuk gaya hidup yang tak pernah memuaskan dahagamu.
Rumahmu mungkin megah bak istana, tapi di dalamnya terasa gersang. Tidak ada tawa yang tulus. Pasangan atau anak-anakmu mungkin menikmati uangmu, tapi mereka tidak merasakan "keberkahan" darimu. Kamu membangun istana di atas pasir; terlihat kokoh, tapi rapuh dan siap runtuh kapan saja.
Harga Mahal Sebuah "Keberkahan"
Saudaraku, rezeki halal itu ajaib.
Mungkin jumlahnya tak sebanyak hasil tipu-tipumu. Mungkin didapat dengan keringat yang bercucuran dan kaki yang pegal. Tapi, di dalam rezeki halal, ada garansi dari Tuhan yang bernama Berkah.
Uang halal itu menenangkan. Ia membawa kedamaian saat kau merebahkan kepala di bantal malam hari. Tidak ada ketakutan akan terbongkarnya aib. Tidak ada rasa was-was dikejar dosa. Anak-anak tumbuh dari makanan yang baik, menjadi penyejuk hati, bukan menjadi sumber masalah.
Menjadi penjilat mungkin membuatmu "aman" sesaat di hadapan manusia, tapi itu menghancurkan harga dirimu sebagai manusia merdeka. Menjadi penipu mungkin membuatmu kaya mendadak, tapi itu mematikan nuranimu perlahan-lahan.
Belum Terlambat untuk Berbalik Arah
Jangan biarkan hatimu membatu sepenuhnya. Rasa gelisah yang kau rasakan saat ini, ketakutan kecil yang muncul saat kau sendirian, itu adalah sinyal. Itu adalah sisa nuranimu yang berteriak, memintamu berhenti.
Berhentilah memakan hak orang lain. Berhentilah memaniskan bibir hanya untuk keuntungan pribadi sementara hatimu busuk merencana tipu daya.
Carilah rezeki yang halal. Meski sedikit, rasanya nikmat luar biasa. Lebih baik hidup sederhana dengan kepala tegak dan hati yang tenang, daripada hidup mewah tapi jiwamu tersiksa dan membusuk dari dalam.
Pulanglah. Kembali pada jalan kejujuran. Karena di ujung nanti, bukan seberapa banyak yang kau kumpulkan yang akan dihitung, tapi seberapa bersih cara kau mendapatkannya.

