Utang, Monumen dan Harga yang Harus Dibayar Rakyat
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Seringkali, kebusukan itu terbungkus rapi dalam kemasan yang indah. Kita terbuai oleh monumen megah, oleh desain arsitektur yang memukau mata, dan oleh keriuhan tepuk tangan di media sosial. Namun, ketika layar ditutup dan lampu sorot dimatikan, barulah tercium aroma amis yang sebenarnya.
Itulah yang terjadi di Jawa Barat hari ini.
Tahun 2026 seharusnya menjadi fajar baru bagi Gubernur Dedi Mulyadi. Namun, fajar itu tertutup awan hitam pekat—sebuah "warisan beracun" dari era Ridwan Kamil. Di balik senyum dan konten yang viral di masa lalu, tersimpan bom waktu fiskal yang kini meledak di tangan penerusnya.
Jerat Utang yang Mencekik Napas Rakyat
Bayangkan seorang ayah yang baru saja mengambil alih kemudi rumah tangga, namun mendapati brankas tidak hanya kosong, melainkan penuh dengan tagihan. Dedi Mulyadi memulai tahun pertamanya bukan dengan berlari, melainkan dengan merangkak, menyeret beban utang peninggalan masa lalu yang menggunung.
Angka itu bukan sekadar statistik, itu adalah uang rakyat yang "hilang".
Total Rp3 Triliun dana lenyap dari potensi pembangunan 2026.
* Rp621 Miliar harus dibayarkan untuk proyek-proyek era Ridwan Kamil yang "tunda bayar". Proyeknya direncanakan dan dinikmati di masa lalu, tapi tagihannya dibebankan pada masa depan.
* Ditambah lagi dengan pemangkasan dana transfer pusat sebesar Rp2,458 Triliun.
Jawa Barat sedang "berpuasa paksa" karena kenyang oleh utang masa lalu.
Monumen Ego di Atas Penderitaan Anggaran
Sakit hati rasanya melihat rincian beban itu. Di saat rakyat butuh jaminan kesehatan, APBD justru tergerus untuk membayar "gaya hidup" pemerintahan sebelumnya:
* Cicilan Utang PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional): Hampir Rp600 Miliar per tahun harus disetor.
* Tunggakan BPJS: Menyisakan lubang Rp300 Miliar.
* Biaya "Gengsi" Aset: Rakyat harus menanggung Rp50 Miliar per tahun hanya untuk operasional Masjid Al Jabbar dan Rp100 Miliar untuk subsidi Bandara Kertajati.
Uang yang seharusnya bisa menyekolahkan anak miskin atau memberi makan kaum papa, kini tersedot untuk merawat tembok-tembok beton warisan ambisi.
Pengorbanan Sang Penerus: Memilih Menderita Bersama Rakyat
Di tengah himpitan yang nyaris mustahil ini, Dedi Mulyadi mengambil jalan sunyi. Ia tidak memilih mengeluh, ia memilih berkorban.
Ketika anggaran infrastruktur jalan justru dinaikkan dari Rp3,5 Triliun menjadi Rp4,5 Triliun demi nadi ekonomi rakyat, Dedi memotong urat nadinya sendiri sebagai pejabat. Ia tahu, seseorang harus mengalah agar rakyat tidak kalah.
Lihatlah apa yang ia lakukan untuk menambal "kebocoran kapal" ini:
* Meja Makan yang Sepi: Anggaran makan minum tamu yang dulu foya-foya mencapai Rp3,5 Miliar, kini dipangkas habis-habisan menjadi hanya Rp500 Juta.
* Gubernur Tanpa Fasilitas: Dedi menghapus baju dinas, menghapus kendaraan dinas, dan yang paling drastis—menghapus perjalanan dinas gubernur di tahun 2026.
* Matinya Lampu Gedung: Listrik di gedung pemerintahan dikurangi. Pesta seremonial ditiadakan, kecuali untuk peringatan Kemerdekaan dan Hari Jadi Provinsi.
"Tahun 2026 ini saya tidak menggunakan lagi dana perjalanan dinas pemerintah," tegas Dedi. Sebuah kalimat sederhana, namun menampar keras gaya hidup hedonis pejabat sebelumnya.
Realitas Pahit
Ini adalah kisah tentang dua kepemimpinan yang kontras. Yang satu mewariskan kemegahan semu di atas tumpukan utang, yang satu mewarisi puing-puing sambil berusaha membangun pondasi yang kokoh dengan keringat dan pengorbanan pribadi.
Mata kita kini terbuka. Bahwa di balik "Jabar Juara" di masa lalu, ada Jabar yang "sengsara" secara fiskal di masa kini. Dedi Mulyadi kini berdiri sendirian, memikul beban dosa masa lalu, memastikan setiap rupiah uang rakyat kembali ke aspal jalanan, bukan ke pesta pora pejabat.
Pesta telah usai, Tuan Kamil. Dan kini, kami yang harus mencuci piring kotornya.

