Geopolitik: Dari Tatanan Dunia Uni-Polar Menuju Multi-Polar

Ilustrasi. (poto/net).

Penulis: Sabar Tambunan

Satuju.com - Dalam kajian geopolitik internasional, sebagian ahli berpendapat bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi. Sejarah peradaban seperti Mesopotamia, Mesir Kuno, maupun keberadaan dinosaurus yang punah menjadi ilustrasi bahwa pusat kekuatan dunia selalu berubah sepanjang sejarah.

Seiring dengan dinamika kekuatan global, saat ini dunia mengalami pergeseran dari tatanan uni-polar—yang dominan oleh satu kekuatan besar—menuju tatanan multi-polar di mana berbagai negara dan blok kekuatan memiliki pengaruh yang saling menyeimbangkan.

Sejarawan Samuel P. Huntington pernah mengemukakan konsep Clash of Civilizations atau benturan peradaban, yang memprediksi perubahan jalur dominasi global berdasarkan perbedaan budaya dan peradaban. Dalam pandangan tersebut, kekuatan peradaban Asia, termasuk Cina, diproyeksikan meningkat dalam percaturan geopolitik dunia.

Selain itu, Indonesia sebagai bagian dari kelompok ras Mongoloid secara historis dan kultural juga berada dalam kawasan Asia yang turut bertransformasi dalam peta kekuatan global.

Transisi dari Uni-Polar ke Multi-Polar

Dominasi tatanan dunia setelah berakhirnya Perang Dingin banyak diidentikkan dengan kekuatan Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal (unipolar). Namun dalam dua dekade terakhir, berbagai faktor ekonomi, politik, dan strategis menyebabkan distribusi kekuasaan global menjadi lebih beragam dan kompleks.

Salah satu indikator perubahan itu adalah muncul dan berkembangnya blok negara-negara berkembang seperti BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) dan perluasan konsep BRICS+, di mana sejumlah negara berkembang menambah jumlah anggotanya untuk memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, politik, dan diplomasi.

Sejak 6 Januari 2025, Indonesia resmi menjadi anggota BRICS+, menandai langkah strategis dalam memperluas peran negara di kancah global serta memperkuat posisi tawar dalam percaturan geopolitik yang lebih beragam.

Perluasan BRICS terus berlangsung, dengan anggota baru seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Iran, dan Ethiopia bergabung dalam aliansi ini. Hal ini mencerminkan kehendak negara-negara berkembang untuk bekerja sama dalam kerangka yang lebih luas dan seimbang.

Dinamika dan Tantangan Multipolaritas

Transisi menuju dunia multipolar tidak berarti dominasi satu blok secara mutlak, melainkan pembagian pengaruh lebih merata di antara berbagai negara besar dan regional. Menurut laporan keamanan internasional, kekuatan global kini menunjukkan unsur unipolar, bipolar, maupun multipolar secara simultan, tergantung isu dan wilayahnya.

Pergeseran ini dipandang oleh sebagian negara anggota BRICS sebagai kesempatan untuk mewujudkan dunia yang lebih adil, terutama bagi negara-negara berkembang yang selama ini merasa kurang terwakili dalam struktur kekuatan global. Namun laporan yang sama juga memperingatkan bahwa multipolaritas memiliki tantangan tersendiri, seperti risiko fragmentasi, meningkatnya potensi konflik antara kekuatan yang berbeda, serta kebutuhan aturan bersama yang kuat untuk mengatur kerja sama dan perdamaian dunia.

Kesimpulan

Perubahan dari tatanan dunia yang dipimpin oleh satu kekuatan besar menuju sistem multipolar merupakan proses yang sedang berlangsung. Perkembangan seperti perluasan BRICS+ menunjukkan adanya upaya negara-negara berkembang untuk memperkuat posisi mereka di arena global, baik secara ekonomi maupun politik.

Indonesia, melalui keanggotaannya di BRICS+, berpeluang memperkuat peran serta pengaruhnya dalam percaturan geopolitik global yang semakin dinamis dan kompleks. Namun, transisi ini juga menuntut diplomasi cerdas dan kerja sama internasional yang konstruktif untuk menghindari potensi konflik serta memastikan dunia yang lebih stabil dan seimbang.