Agus Salim, Sjahrir, Natsir: Warisan Pikiran yang Pernah Dipenjara

Agus Salim, Sjahrir, Natsir

Oleh: Muhammad Salim Akbar

Satuju.com - Di tahun 1947, Agus Salim menghadiri sidang PBB dengan jas yang lusuh dan sepatu bututnya. Dunia internasional terkejut, tapi justru di situlah ia membalik narasi. 

Dengan diplomatis, Salim berkata, "Inilah kondisi bangsa kami setelah 350 tahun dijajah." Bukan uang atau senjata, melainkan kata-kata yang menjadikannya master diplomasi.

Agus Salim pernah menolak tawaran Belanda untuk sekolah elit, memilih jalur independen. Ia menguasai 9 bahasa asing secara otodidak, dan surat-surat diplomatiknya sering ditulis tangan di atas kertas sederhana. 

Baginya, kemerdekaan bukan hanya fisik, tetapi juga kemampuan berpikir merdeka tanpa bergantung pada pihak asing.

Sutan Sjahrir justru lebih sering berjuang dari dalam penjara. Saat para tokoh lain berpidato panas, Sjahrir menghabiskan waktunya dengan membaca filsafat dan menulis strategi perlawanan halus. 

Ia percaya bahwa tanpa pendidikan politik rakyat, kemerdekaan hanyalah ilusi belaka.

Sjahrir adalah perdana menteri termuda Indonesia, tetapi justru dipenjara oleh negara yang ia bangun. Pikirannya yang sosialis-demokrat dinilai terlalu berseberangan dengan penguasa. 

Ironisnya, banyak gagasannya tentang demokrasi dan keadilan justru menjadi fondasi sistem politik modern Indonesia.

Mohammad Natsir mengguncang dunia dengan pidato di forum internasional tentang Islam dan demokrasi. 

Namun di dalam negeri, ia dianggap kontroversial karena menolak sekularisme ekstrem. Natsir pernah mengkritik Soekarno secara terbuka, yang akhirnya membawanya ke penjara tanpa proses pengadilan.

Mereka adalah bukti bahwa pahlawan sejati bukanlah yang selalu disukai penguasa. 

Pemikiran mereka melampaui zamannya, terkadang dianggap ancaman, justru karena visinya yang terlalu jauh ke depan. Sekarang, warisan mereka justru menjadi fondasi nilai demokrasi dan diplomasi Indonesia di mata dunia.