Kepedihan Tak Mesti Dibagi, Sujud PadaNya "Keheningan Adalah Kekuatan"

Oleh: Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP.,C.PCT, dan Master Trainer berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). (poto/ist)

Satuju.com - Setiap goresan luka yang menyebar, tidak pernah "dalam". Namun, tidak semua kepedihan mesti dibagi. Ada kalanya, luka lebih baik dirawat dalam sepi. Dirawat sendiri.

Energi terbaik kita, terkadang muncul dalam kesendirian. Seperti kata sang Filsuf: "Keheningan adalah kekuatan". 

Sebaliknya, "Curhat" di keramaian, ada kalanya, disalahpahami. Maka, ber-hati-hatilah mencurah emosi di "Medsos". Tidak selamanya, kita beroleh validasi di ruang publik.

Di area kompetisi "pengakuan" ini, memendam rahasia pribadi, sepertinya butuh kekuasaan ekstra. To speak is silver to silence is gold. Yang tetap diam adalah pemenang.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik atau diam"_Al Hadis.

Hadis ini mensejajarkan "berbuat baik" dengan "diam".

Filsuf Perancis, Simone Weil, menyebut generasi modern tengah dilanda penyakit: Spritual Hungry (kelaparan bathin). Gejala kelaparan yang tidak terobati oleh ihwal yang bersifat duniawi. 

Lantas, di mana solusinya? Dengarlah petikan syair Legenda Musik Indonesia, Ebiet G Ade dalam lagunya: "Untuk Kita Renungkan":

"...Tak ada yang bakal bisa menjawab, mari hanya: runduk_sujud padaNya..." 

Masya Allah!

Oleh: Direktur Utama, Lembaga Pendidikan Wartawan, Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP.,C.PCT, dan Master Trainer berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).