Potret Buram Nasib Guru Honorer: 23 Tahun Mengabdi, Gaji Tak Pasti

Agustinus, seorang guru honorer di SD Negeri Batu Esa

Kupang Barat, Satuju.com — Kisah pilu dialami Agustinus, seorang guru honorer di SD Negeri Batu Esa, Kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama 23 tahun mengabdi di dunia pendidikan, ia harus menerima kenyataan pahit: gaji yang tak menentu, bahkan kerap terlambat hingga berbulan-bulan.

Kisah ini mencuat setelah dibagikan akun Instagram @watchdoc_insta. Dalam unggahan tersebut, Agustinus mengungkapkan kegundahannya sebagai guru honorer yang telah puluhan tahun mengabdikan diri, namun masih jauh dari kata sejahtera.

“Pengorbanan saya untuk mengubah anak bangsa, banyak yang menjadi orang baik, tapi saya sendiri masih begini,” ujar Agustinus, dikutip dari unggahan tersebut.

Ia menjelaskan, gaji yang diterimanya sebagai guru honorer sangat bergantung pada pencairan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Tak jarang, ia harus menunggu tiga hingga enam bulan untuk menerima upahnya. Bahkan, jika Dana BOS terlambat cair, maka gajinya pun tidak dibayarkan.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pemotongan gaji akibat kebijakan efisiensi anggaran dan program MBG. Meski demikian, Agustinus tetap setia menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Dengan penghasilan yang minim dan tidak menentu, Agustinus terpaksa hidup sangat hemat. Untuk berangkat mengajar ke sekolah, ia harus menempuh jarak hampir empat kilometer, kerap dengan berjalan kaki.

Kisah Agustinus kembali membuka mata publik tentang realitas pahit yang masih dialami ribuan guru honorer di berbagai daerah. Di tengah tuntutan mencerdaskan kehidupan bangsa, masih banyak pendidik yang harus berjuang sendiri demi bertahan hidup.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai solusi konkret untuk kesejahteraan guru honorer di daerah terpencil seperti Kup