Strategi Berisiko di Balik Rupiah yang Terjun

Ilustrasi. (poto Ai)

Satuju.com - Belakangan ini banyak yang panik lihat nilai tukar Rupiah makin melemah (hampir Rp17.000 per Dolar). Tapi, ada pendapat menarik yang bilang: "Tenang, ini bukan kecelakaan. Ini strategi!"

Katanya, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mungkin sedang "sengaja" membiarkan Rupiah melemah demi tujuan besar: Ekonomi tumbuh ngebut sampai 8%.
Kok bisa mata uang lemah malah bikin negara maju? Yuk, kita bedah pakai bahasa gampang.

1. Tiru Jurus China: "Jual Murah Biar Laris Manis"

Kenapa barang China ada di mana-mana? Karena harganya murah! China sengaja bikin mata uangnya murah supaya barang dagangan mereka laku keras di luar negeri.
Skenarionya begini:

 * Kalau Rupiah murah, harga barang buatan Indonesia (baju, sepatu, furnitur) jadi sangat murah buat orang asing (yang pegang Dolar).
 * Akibatnya: Barang kita diborong bule -> Pabrik di sini kebanjiran order -> Pabrik butuh banyak karyawan -> Pengangguran berkurang & rakyat punya gaji.

Syaratnya: Kita harus punya pabrik yang bikin barang jadi. Kalau kita cuma jual barang mentah (sawit/batu bara), strategi ini percuma karena harganya diatur pasar dunia, bukan kurs kita.

2. Membangunkan "Uang Tidur" di Bank

Sekarang ini, bank-bank di Indonesia punya uang nganggur sekitar Rp200 Triliun. Tapi, bank males minjemin uang ini ke pengusaha/UMKM karena takut nggak dibayar (kredit macet). Bank lebih pilih beli surat utang negara (SBN) yang pasti untung dan aman.

Nah, bos-bos baru di BI sekarang punya tugas: Paksa bank berhenti main aman! Uang itu harus disalurkan jadi kredit usaha supaya ekonomi berputar kencang. Bunganya diturunin biar orang mau pinjam uang buat usaha.

3. Bahayanya: Jebakan Harga Barang (Inflasi)

Strategi di atas terdengar keren, kan? Tapi ada satu risiko besar yang bisa bikin rencana ini jadi bumerang.
Strategi "Rupiah Lemah" cuma aman kalau kita sudah mandiri (swasembada) soal pangan dan energi. Masalahnya, kita masih banyak impor:

 * BBM kita impor.
 * Gandum (buat mie instan & roti) kita impor.
 * Kedelai (buat tahu tempe) kita impor.

Kalau Rupiah lemah, harga barang-barang impor itu otomatis jadi mahal.

Bayangkan skenario buruknya: Pabrik memang nambah karyawan, tapi harga bensin, mie instan, dan tahu tempe naik gila-gilaan. Gaji rakyat naik sedikit, tapi harga barang naik lebih tinggi. Bukannya kenyang, malah "tekor".

4. Kita Bukan Amerika

Jangan samakan kita sama Amerika Serikat.

 * Amerika bisa cetak Dolar sesuka hati karena Dolar dipakai seluruh dunia.
 * Indonesia kalau Rupiah jatuh terlalu dalam, investor asing bisa takut dan kabur bawa uangnya keluar. Kalau itu terjadi, krisis ekonomi bisa di depan mata.

Kesimpulannya: Ini Taruhan Besar (All In)

Pemerintah sedang memainkan kartu "High Risk, High Reward" (Risiko Tinggi, Hadiah Besar).
 * Kalau Berhasil: Indonesia jadi pabrik dunia baru, lapangan kerja melimpah, ekonomi meroket.
 * Kalau Gagal: Harga barang-barang naik drastis (mahal), rakyat menjerit karena uang di dompet jadi nggak ada artinya.
Jadi, pertanyaannya sekarang: Siapkah dompet kita menahan guncangan harga barang, sambil menunggu janji manis lapangan kerja itu datang?