Menjelang Ramadan, Majelis Tarjih Muhammadiyah Tekankan Persiapan Spiritual dan Fisik

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.conm - Umat Islam diajak Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Homaidi Hamid mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Pesan itu ia sampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Pimpinan Ranting Aisyiyah Tamantirto Selatan, Yogyakarta, Ahad (1/2).

Menurut Homaidi, Ramadan merupakan bulan maghfirah—bulan pengampunan—yang di dalamnya Allah memberikan banyak sarana bagi hamba-Nya untuk menggugurkan dosa.

Ia mengutip sabda Rasulullah Saw yang artinya, salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa di antaranya, selama seseorang menjauhi dosa besar.

Homaidi menekankan, menariknya dalam hadis tersebut dua yang pertama disebutkan dalam bentuk ibadah, sedangkan yang ketiga disebutkan nama bulannya: Ramadan. Hal itu, menurutnya, menjadi isyarat bahwa Ramadan adalah bulan amal, bukan sekadar satu jenis ibadah.

“Ramadan itu bukan hanya puasa. Di dalamnya ada salat lima waktu, salat Jumat, puasa, qiyam Ramadan (tarawih), sedekah, membaca Al-Qur’an, dan banyak kebaikan lainnya. Karena itulah Ramadan disebut bulan maghfirah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa setiap ibadah bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi sekaligus menggugurkan dosa. Bahkan meninggalkan maksiat pun bernilai pahala. “Ini bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta‘ala kepada manusia, yang memang tidak pernah lepas dari salah dan dosa,” ujarnya.

Puasa Wajib bagi Orang Beriman
Dalam ceramahnya, Homaidi mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam QS Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Menurut Homaidi, meski ayat tersebut menggunakan lafal mudzakkar (laki-laki), secara kaidah bahasa Arab perintah itu berlaku pula bagi perempuan. Kewajiban puasa ditujukan kepada setiap orang beriman yang telah balig dan berakal sehat.

Ia juga menjelaskan firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 184:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, lalu mengganti pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah: 184).

Ayat ini menjadi dasar bolehnya tidak berpuasa bagi orang sakit dan musafir, dengan kewajiban mengganti di hari lain jika masih memungkinkan sembuh.

Masih dalam ayat yang sama, Allah berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS Al-Baqarah: 184).

Homaidi menjelaskan, ayat ini menjadi dasar kebolehan fidyah bagi lansia yang sudah sangat berat berpuasa, serta ibu hamil dan menyusui jika menjalankan puasa dirasa memberatkan.

Menurut pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah, ibu hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena berat dan telah membayar fidyah tidak lagi wajib mengqada puasa tersebut.

Ia menegaskan bahwa Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Karena itu, rukhsah boleh diambil selama tidak membahayakan diri.

Homaidi juga mengingatkan jamaah agar mewaspadai hadis palsu yang sering beredar menjelang Ramadan, salah satunya ungkapan tentang cukup bergembira menyambut Ramadan untuk terbebas dari neraka. Ia menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan berasal dari Nabi Muhammad Saw dan tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis.

Menutup pengajian, Homaidi kembali mengajak jamaah mempersiapkan mental dan kesehatan agar mampu menjalani Ramadan secara optimal—berpuasa, tarawih, memperbanyak sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

“Ramadan ila Ramadan itu maknanya Ramadan adalah bulan amal. Mudah-mudahan kita diberi umur dan kekuatan untuk menjalankan ibadah Ramadan secara penuh,” pungkasnya.