Ketika Izin Tambang Ditentukan dari Wall Street
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Belum genap sebulan tinta SK pencabutan izin itu kering.
Pada 19 Januari 2026, pemerintah dengan gagah berani mencabut izin tambang emas Martabe (PT Agincourt/UNTR). Alasannya mulia: Lingkungan rusak, banjir di Sumatera tak kunjung surut.
Publik tepuk tangan. "Akhirnya ada yang berani tegas!" pikir kita.
Tapi ternyata, ketegasan itu punya tombol undo. Dan tombolnya tidak berada di Jakarta, tapi di Amerika Serikat.
BISIKAN SAKTI SANG "PAWANG"
Bukan sembarang rumor, ini keluar langsung dari mulut adik kandung Presiden, Pak Hashim Djojohadikusumo.
Beliau membocorkan adanya "protes" dari pebisnis Amerika:
"Hashim, Anda harus memberi tahu saudara Anda, izin ini harus dipulihkan."
Kalimatnya bukan permohonan, tapi terdengar seperti PERINTAH.
Dan ajaibnya, sinyal pembatalan pencabutan izin itu langsung muncul lewat Menteri Bahlil.
SIAPA MEREKA?
Siapa "Pawang" yang bisa membuat Istana putar balik?
Data berbicara. Di balik saham UNTR, bercokol raksasa keuangan dunia: BlackRock, Vanguard, MFS.
Nama-nama yang kalau mereka "batuk", pasar saham global bisa demam.
Mereka memegang kendali atas triliunan rupiah saham publik. Jika mereka marah dan melakukan mass-selling (jual massal), valuasi perusahaan bisa hancur, dan ekonomi makro bisa goyang.
KEDAULATAN ATAU KETAATAN?
Ini adalah pil pahit realita politik kita.
Di panggung depan, kita melihat pemimpin yang berapi-api bicara soal kemandirian bangsa, soal berdiri di kaki sendiri.
Tapi di panggung belakang, kebijakan strategis negara ternyata masih bisa didikte oleh "Bapak Asuh" dari Wall Street.
Kita masuk blok Dewan Keamanan Gaza bentukan Amerika, bayar iuran triliunan, dan kini izin tambang pun "disetir" dari jauh.
MACAN ATAU KUCING MANIS?
Kasus Martabe ini membuka mata kita.
Bahwa sekeras apapun aumannya, sang Macan ternyata tetap butuh elusan sang Pawang.
Lingkungan Sumatera boleh rusak, banjir boleh merendam rakyat, tapi portofolio investasi Tuan-Tuan di New York harus tetap hijau.
Selamat datang di realita, di mana kedaulatan kadang berhenti di depan pintu masuk bursa saham.

