Merdeka Seratus Persen: Gagasan Tan Malaka yang Tetap Relevan
Tan Malaka
Satuju.com - Sebuah unggahan di akun Instagram @matanem_ kembali mengangkat gagasan besar tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka, tentang konsep “Merdeka Seratus Persen”. Pemikiran tersebut memantik diskusi publik mengenai makna kemerdekaan yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga substantif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa merdeka seratus persen bukan sekadar slogan politik, melainkan cara memaknai kebebasan secara menyeluruh. Konsep ini menekankan bahwa kemerdekaan sejati harus terbebas dari berbagai bentuk penjara, baik yang tampak seperti penjajahan fisik maupun yang tidak terlihat seperti dominasi ekonomi, ketergantungan intelektual, hingga belenggu pola pikir.
Tan Malaka memandang kemerdekaan sebagai keberanian untuk berpikir secara mandiri. Ia menilai sebuah bangsa tidak akan benar-benar merdeka jika pemikirannya masih dipengaruhi kepentingan luar, ekonominya bergantung pada negara lain, serta rakyatnya kehilangan keberanian untuk mengkritik kekuasaan. Karena itu, merdeka seratus persen dimaknai sebagai ajakan untuk berdiri di atas kaki sendiri melalui pendidikan yang membebaskan nalar, ekonomi yang berdikari, serta politik yang berdaulat.
Lebih jauh, konsep tersebut juga menempatkan manusia sebagai subjek yang sadar, bukan sekadar objek yang mengikuti arus. Kemerdekaan dipandang bukan sebagai hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang untuk menguasai diri sendiri, termasuk kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi dan menjaga martabat.
Unggahan tersebut juga menyoroti relevansi gagasan Tan Malaka di era modern. Disebutkan bahwa bentuk “penjajahan” masa kini tidak selalu hadir melalui kekuatan militer, tetapi bisa muncul lewat ketergantungan teknologi, arus informasi, budaya konsumtif, hingga pengaruh data dan pasar global. Kondisi ini membuat masyarakat kerap merasa bebas, meski sebenarnya masih berada dalam berbagai bentuk ketergantungan yang tidak disadari.
Diskursus mengenai merdeka seratus persen pun menjadi pengingat akan pentingnya refleksi kolektif, apakah kemerdekaan yang dirasakan saat ini sudah benar-benar utuh atau masih sebatas formalitas. Gagasan tersebut mendorong keberanian untuk terus berpikir kritis, jujur terhadap kondisi bangsa, serta membangun kemandirian tanpa bergantung pada kekuatan luar.
Pemikiran Tan Malaka tentang kemerdekaan total hingga kini tetap relevan sebagai bahan refleksi, terutama di tengah perubahan zaman yang menghadirkan tantangan baru bagi kedaulatan bangsa dan kebebasan individu.

