Kisah Siti Hajar: Dari Lembah Gersang Lahir Mata Air Zam-zam

Ilustrasi. (poto Ai)

Satuju.com - Di tengah lembah tandus yang sunyi, jauh dari peradaban, terukirlah salah satu kisah paling agung tentang iman, keteguhan, dan pengorbanan seorang ibu. 

Kisah ini berawal dari perjalanan berat Nabi Ibrahim AS, istrinya Siti Hajar, dan putra kecil mereka, Nabi Ismail AS.

Perintah yang Menggetarkan Hati

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke sebuah lembah gersang yang tak berpenghuni. 

Lembah itu kelak dikenal sebagai Makkah. Tanpa tanaman, tanpa air, tanpa manusia.

Dengan hati yang diliputi keimanan, Ibrahim menurunkan Hajar dan Ismail, meninggalkan sedikit bekal makanan dan air. 

Tanpa sepatah kata, Ibrahim pun berpaling.

Siti Hajar terkejut. Ia berlari mengejar Ibrahim dan bertanya:

"Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di tempat tanpa kehidupan ini?"

Ibrahim diam.

Hajar mengulangi pertanyaannya berkali-kali. 

Hingga akhirnya ia bertanya:

"Apakah ini perintah Allah?"

Ibrahim mengangguk.

Mendengar itu, Hajar berkata dengan penuh keteguhan:

"Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami."

Kalimat itu menjadi simbol keimanan total seorang ibu.

Tangisan Bayi di Lembah Gersang

Hari demi hari berlalu. Bekal air dan makanan habis. Ismail kecil mulai menangis kehausan. Hati Hajar teriris. Ia tak sanggup melihat anaknya merintih.

Dengan penuh kecemasan, Hajar berlari mencari air. Ia menaiki Bukit Shafa, memandang ke segala arah, namun tak menemukan siapa pun. Ia turun dan berlari menuju Bukit Marwah. 

Jarak antara keduanya ia tempuh dengan penuh harap dan putus asa.

Ia bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, mencari setetes air demi menyelamatkan nyawa putranya.

Mukjizat Air Zam-zam

Setelah kembali ke tempat Ismail, Hajar terkejut melihat air memancar dari tanah di dekat kaki Ismail. Malaikat Jibril telah menghentakkan sayapnya, memunculkan mata air yang tak pernah kering: Zam-zam.

Hajar segera menahan air itu sambil berkata:

"Zam-zam! Zam-zam!" (berkumpul… berkumpul…

Dari sinilah air itu dinamakan Zam-zam.

Air itu terus mengalir, memberi kehidupan di lembah yang sebelumnya mati. Dari mata air inilah kelak tumbuh peradaban suci bernama Makkah.

Kedatangan Kabilah Jurhum

Melihat burung-burung beterbangan di atas lembah, kabilah Jurhum menyadari adanya air. Mereka mendatangi tempat itu dan meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. 

Hajar mengizinkan dengan syarat kepemilikan sumur tetap miliknya.

Sejak saat itu, Makkah mulai dihuni manusia.

Makna Sa’i dan Air Zam-zam

Perjuangan Hajar diabadikan Allah dalam ibadah sa’i: berlari kecil antara Shafa dan Marwah dalam rangkaian haji dan umrah. 

Jutaan umat Islam meneladani langkah seorang ibu yang berlari demi anaknya.

Air Zam-zam pun menjadi air penuh berkah, yang hingga kini terus mengalir tanpa henti selama ribuan tahun.

Rasulullah bersabda:

"Air Zam-zam sesuai dengan niat orang yang meminumnya." (HR. Ibnu Majah)

Hikmah Agung dari Kisah Ini

Keimanan melahirkan ketenangan di tengah ujian.
Usaha maksimal harus disertai tawakal total.

Kasih ibu adalah kekuatan luar biasa.

Pertolongan Allah datang saat manusia mencapai batasnya.

Siti Hajar bukan hanya ibu Nabi Ismail, tetapi ibu teladan sepanjang zaman. 

Dari langkah-langkah kecilnya di padang pasir, lahirlah ibadah agung yang dilakukan jutaan manusia hingga akhir zaman.

Dan dari tangisan seorang bayi, Allah memancarkan air kehidupan bagi seluruh umat manusia.