19.000 Sapi dan Sepiring Nasi Telur: Jurang Janji dan Realita MBG

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Sebuah angka besar baru saja dilemparkan ke publik: 19.000 ekor sapi. Itulah perkiraan jumlah pasokan harian yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda Program Makan Bergizi (MBG) di seluruh penjuru negeri. Angka yang membuat Presiden Prabowo Subianto sendiri mengaku terkejut, sekaligus memberi gambaran betapa raksasanya ambisi kedaulatan pangan ini.

​Namun, jika kita menilik unggahan-unggahan di media sosial atau melongok ke nampan-nampan baja di ruang kelas saat uji coba berlangsung, pemandangan yang tersaji sedikit berbeda. Bukan potongan daging sapi semur yang tebal, melainkan telur dadar keemasan atau sepotong ayam goreng yang lebih sering menyapa indra penglihatan.

​Ada jurang yang lebar antara target makro dan realita mikro di atas piring. Mengapa demikian?

​Menyediakan 19.000 ekor sapi per hari berarti memotong sekitar 6,9 juta ekor per tahun. Sebagai gambaran, populasi sapi potong nasional saat ini masih berjuang di angka belasan juta. Menghabiskan sepertiga populasi nasional dalam setahun tentu bukan pilihan bijak jika tidak dibarengi dengan revolusi peternakan yang masif.

​"Ini skala industri, bukan lagi sekadar urusan dapur rumah tangga," ungkap seorang pengamat kebijakan pangan. Skala besar ini menuntut kesiapan dari hulu ke hilir—mulai dari inseminasi buatan hingga rantai distribusi dingin (cold chain) yang menjangkau desa terpencil.

​Di sisi lain, duit negara yang mengalir ke dapur-dapur uji coba harus dikelola dengan sangat hati-hati. Mengapa saat ini kita lebih sering melihat "Nasi Telur"?

​Logistik yang Masuk Akal: Mengamankan 1.000 butir telur setiap pagi jauh lebih mudah bagi pengelola dapur lokal daripada mencari pasokan daging sapi segar dengan harga stabil.

​Keamanan Pangan: Telur dan ayam memiliki risiko kerusakan yang lebih rendah dalam proses distribusi tanpa pendingin canggih dibandingkan daging merah.

​Efisiensi Gizi: Secara hitungan biaya, dua butir telur sering kali memberikan nilai protein yang setara dengan sepotong kecil daging sapi, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi kas negara.

​Uji Coba: Uji Nyali atau Uji Rasa?

​Kritik pun bermunculan. Jika ini adalah "Makan Bergizi", mengapa menunya terkesan "ekonomis"? Jawabannya mungkin terletak pada strategi. Pemerintah tampaknya sedang menguji "mesin" operasinya terlebih dahulu—memastikan makanan sampai tepat waktu, tidak basi, dan disukai anak-anak—sebelum memasukkan bahan baku premium yang sensitif terhadap harga pasar.

​Daging sapi tetap menjadi target jangka panjang. Angka 19.000 ekor itu adalah sebuah "janji" bahwa standar gizi anak Indonesia akan dinaikkan ke level tertinggi. Namun untuk saat ini, telur dan ayam menjadi pahlawan garda depan yang memastikan perut anak-anak tetap terisi tanpa membuat anggaran negara jebol di tengah jalan.

​Penutup: Menanti Janji di Balik Angka

​Perjalanan menuju 19.000 sapi per hari masih panjang. Publik kini menanti, kapan target raksasa itu benar-benar mendarat di atas nampan anak sekolah, bukan lagi sekadar angka yang mengejutkan di meja rapat. Hingga saat itu tiba, nasi telur tetap menjadi saksi bisu dimulainya langkah besar menuju Indonesia Emas.