Lailatul Qadar dan Ambisi Kursi: Kelakar Politik yang Menuai Kritik
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Dalam keriuhan politik Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, sebuah kelakar meluncur dari bibir Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Namun, kali ini bukan soal investasi atau hilirisasi yang ia bicarakan, melainkan sebuah analogi spiritual yang dipaksa turun ke arena perebutan kuasa: Lailatul Qadar.
Bagi umat Islam, Lailatul Qadar adalah malam seribu bulan, sebuah puncak pencarian spiritual yang penuh kesunyian dan kesucian. Namun di bawah bendera beringin, Bahlil mendefinisikannya dengan cara yang jauh lebih pragmatis. Baginya, "malam kemuliaan" itu baru benar-benar turun ke bumi apabila kursi Golkar di parlemen bertambah.
Sakralitas yang Tergerus Ambisi
Pernyataan Bahlil ini bukan sekadar bumbu pidato di depan para kader. Ini adalah potret gamblang bagaimana terminologi agama seringkali ditarik paksa untuk menjustifikasi syahwat politik. Mengaitkan jumlah kursi dengan berkah spiritual tertinggi seolah mengirimkan pesan bahwa indikator kesuksesan seorang politisi adalah penguasaan ruang, bukan pengabdian.
Metafora ini lantas memicu gelombang kritik. Penggunaan istilah yang begitu sakral untuk urusan teknis elektoral dianggap sebagai bentuk desakralisasi agama. Saat politik kehilangan substansi ideologisnya, ia cenderung mencari "jubah" pada simbol-simbol yang paling sensitif bagi masyarakat guna memancing emosi konstituen.
Logika "Tamak" di Balik Kursi
Istilah "tamak" yang menyertai narasi ini muncul bukan tanpa alasan. Di tengah kondisi sosial-ekonomi yang menuntut kerja nyata, fokus pada penambahan kursi di parlemen seringkali dinilai sebagai prioritas yang salah arah.
Bagi Bahlil: Kursi adalah representasi mandat dan kekuatan politik.
Bagi Publik: Kursi seringkali dianggap sebagai alat akses sumber daya yang hanya menguntungkan elit.
Ketika kursi-kursi itu dianggap sebagai "Lailatul Qadar", maka perburuan jabatan tidak lagi dilihat sebagai beban amanah yang berat, melainkan sebagai hadiah yang harus dikejar dengan segala cara.
Bahlil Lahadalia memang dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. Namun, kelakarnya kali ini melintasi batas-batas sensitivitas publik. Di satu sisi, ia berhasil mencuri perhatian media; di sisi lain, ia sedang mempertaruhkan marwah institusi yang dipimpinnya di mata pemilih yang religius.
Apakah politik Indonesia memang sudah sedemikian kering hingga nilai-nilai ketuhanan harus dikerdilkan menjadi sekadar angka-angka di papan pleno KPU? Ataukah ini hanyalah bagian dari "permainan" komunikasi untuk menunjukkan rasa percaya diri yang berlebihan?
Satu yang pasti, ketika politik mulai meminjam istilah langit untuk urusan bumi yang penuh intrik, ada sesuatu yang sedang terkikis: Rasa hormat pada yang suci demi ambisi yang fana.

