Keberkahan Bismillah: Kisah Roti Nabi Nuh dan Manusia Raksasa Aus bin Unuq
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Dalam sebagian kisah yang diriwayatkan dalam literatur Israiliyat, diceritakan tentang seorang manusia raksasa bernama ‘Aus bin ‘Unuq. Ia disebut sebagai keturunan manusia generasi awal setelah Nabi Adam. Nama ibunya adalah ‘Unuq, seorang wanita yang dalam beberapa riwayat dikisahkan memiliki keturunan dengan ukuran tubuh yang sangat besar.
Sejak kecil, ‘Aus bin ‘Unuq sudah memiliki tubuh yang jauh lebih besar daripada manusia biasa. Dalam cerita-cerita lama, tinggi tubuhnya digambarkan sangat menjulang dan kekuatannya luar biasa. Ia mampu mengangkat batu besar, mencabut pohon dari akarnya, bahkan membawa batang kayu raksasa seorang diri.
Sebagian kisah juga menyebutkan bahwa ia hidup sangat lama hingga melewati beberapa generasi manusia. Pada masa itulah Allah mengutus seorang nabi yang sangat sabar dalam berdakwah, yaitu Nabi Nuh AS. Selama ratusan tahun Nabi Nuh menyeru kaumnya agar kembali menyembah Allah, namun hanya sedikit yang beriman.
Ketika kedurhakaan manusia semakin besar, Allah SWTkemudian memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah kapal besar sebagai persiapan menghadapi banjir dahsyat yang kelak dikenal sebagai "Great Flood".
Di sebuah lembah yang luas, Nabi Nuh bersama para pengikutnya mulai menebang pohon dan mengumpulkan kayu. Mereka bekerja siang dan malam. Namun jumlah orang beriman sangat sedikit, sementara batang-batang kayu yang harus dipindahkan dari hutan sangat besar dan berat.
Pada suatu hari, dari kejauhan terlihat sosok yang sangat tinggi berjalan mendekati mereka. Tanah seakan bergetar setiap kali ia melangkah. Dialah *Aus bin ‘Unuq, manusia raksasa yang terkenal dengan kekuatannya.
Melihat sosok besar itu, Nabi Nuh AS mendekatinya dengan penuh kelembutan.
“Wahai Aus,” kata Nabi Nuh,
“kami sedang membangun kapal atas perintah Allah. Kayu-kayu besar ini harus dipindahkan dari hutan menuju tempat pembuatan kapal. Maukah engkau membantu kami?”
Aus menunduk memandang Nabi Nuh AS yang jauh lebih kecil darinya. Ia tersenyum lalu berkata,
“Aku bisa saja membantu, wahai Nuh. Tetapi aku punya satu syarat.”
“Apa syarat itu?” tanya Nabi Nuh.
Aus menjawab dengan suara berat,
“Jika engkau ingin aku membantu membawa kayu-kayu itu, maka buatlah aku kenyang terlebih dahulu.”
Para pengikut Nabi Nuh saling memandang dengan cemas. Mereka tahu betapa besar tubuh Aus. Membuatnya kenyang tentu bukan perkara mudah.
Namun Nabi Nuh AS tetap tenang.
“Baiklah wahai Aus,” kata beliau dengan penuh keyakinan,
“aku akan membuatmu kenyang.”
Nabi Nuh kemudian mengambil sebuah roti kecil yang beliau miliki. Roti itu tampak sangat kecil jika dibandingkan dengan tubuh raksasa Aus.
Roti itu kemudian dibelah menjadi dua bagian.
Setengah diberikan kepada Aus bin ‘Unuq.
Setengahnya lagi dimakan oleh Nabi Nuh.
Melihat hal itu, Aus tertawa keras.
“Wahai Nuh! Roti sekecil itu bahkan tidak cukup untuk satu gigitan bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa kenyang?”
Namun Nuh AS berkata dengan tenang,
“Wahai Aus, sebelum engkau memakannya, sebutlah nama Allah terlebih dahulu. Ucapkan Bismillah.”
Aus pun heran dan bertanya,
“Hanya dengan menyebut nama Tuhanmu?”
Nabi Nuh AS menjawab dengan lembut,
“Ya. Mulailah dengan Bismillah.”
Akhirnya Aus mengangkat roti kecil itu lalu berkata,
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Kemudian ia memakannya.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi. Tidak lama setelah menelannya, ia merasakan perutnya tiba-tiba penuh dan kenyang. Rasa laparnya hilang seolah ia telah memakan makanan yang sangat banyak.
Aus terkejut dan berkata,
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
Nabi Nuh tersenyum dan berkata,
“Ini bukan karena rotinya, wahai Aus. Ini adalah keberkahan dari Allah.”
Saat itulah Aus menyadari bahwa kekuatan dan ukuran tubuhnya tidak berarti apa-apa dibandingkan kekuasaan Allah.
Setelah itu, Aus bin ‘Unuq menepati janjinya. Ia membantu membawa batang-batang pohon besar dari hutan menuju tempat pembangunan kapal.
Kayu-kayu raksasa yang sulit diangkat oleh manusia biasa dapat ia angkat sendirian. Para pengikut Nuh AS pun takjub melihat kekuatannya.
Namun Nabi Nuh selalu mengingatkan mereka,
“Yang menyelamatkan kita bukanlah kekuatan manusia, tetapi rahmat Allah.”
Akhirnya kapal itu selesai dibangun. Kapal yang kelak menjadi penyelamat bagi Nabi Nuh dan orang-orang beriman ketika banjir besar "Great Flood" melanda bumi.
Hikmah dari Kisah Ini
* Keberkahan dari Allah bisa membuat sesuatu yang kecil menjadi cukup.
* Membaca Bismillah membawa keberkahan dalam makanan.
* Kekuatan manusia tidak berarti tanpa pertolongan Allah.
Catatan Penting
Kisah tentang ‘Aus bin ‘Unuq ini berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak memiliki sanad kuat dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih. Karena itu kisah ini tidak untuk diyakini atau diimani sebagai kebenaran pasti, melainkan hanya boleh diceritakan sebagai kisah ibrah (pelajaran) selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

