Defisit Akal Sehat di Negeri Para Pemimpin

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Logika Filsuf

Satuju.com - Negara ini tidak kekurangan pemimpin. Yang kurang adalah akal sehat.

Rocky Gerung menulis ini bukan sebagai hinaan. Tapi sebagai diagnosis. Dan diagnosisnya akurat sampai terasa menyakitkan.

Buku ini adalah 38 tahun pemikiran seorang filsuf yang tidak pernah berhenti bertanya: kenapa republik sekuat ini bisa dikelola oleh orang yang takut pada kebenaran?

APA ITU DUNGU?

Rocky tidak bicara soal kebodohan dalam arti IQ rendah. Dungu, dalam bukunya, adalah kondisi ketika seseorang memilih tidak menggunakan akalnya karena lebih nyaman tunduk pada kekuasaan.

Sistem pendidikan kita, kata Rocky, didesain untuk menghindari ketajaman argumentasi. Seolah berpikir kritis itu tidak sopan. Seolah mempertanyakan kekuasaan itu melanggar norma. Padahal justru di situlah letak bahayanya.

Ketika akal sehat dibungkam, yang tumbuh bukan kepatuhan yang bermartabat. Yang tumbuh adalah ketakutan yang terorganisir. Dan kekuasaan sangat pandai memanfaatkan ketakutan itu.

REPUBLIK YANG DIKELOLA RASA TAKUT

Rocky menyebut ada yang ia namakan republic of fear. Sebuah republik di mana pemimpin tidak membangun kepercayaan rakyat, tapi memelihara ketergantungan rakyat pada rasa takut.

Janji-janji diucapkan dalam pidato. Tapi setelahnya, yang berjalan adalah tukar tambah kepentingan. Parlemen yang seharusnya jadi kebun bunga rakyat, oleh rakyat sendiri lebih dipandang sebagai sarang ular.

Inilah yang Rocky sebut defisit akal. Dan defisit akal, menurutnya, adalah sumber dari defisit etika. Arogansi pejabat bukan bukti kekuatan. Itu adalah cara menyembunyikan kekosongan pikiran.

POLITIK TANPA GAGASAN

Selama 38 tahun mengamati politik Indonesia, dari era Soeharto hingga pasca reformasi, Rocky melihat satu pola yang tak berubah. Politik kita bukan soal ideologi atau gagasan besar tentang keadilan.

Politik kita adalah dealership. Transaksi. Posisi kekuasaan bukan diraih lewat kompetensi, tapi lewat jejaring dan modal. Yang punya uang, punya akses. Yang punya akses, punya suara. Yang punya suara, punya kekuasaan untuk semakin kaya.

Dan yang paling berbahaya: kondisi ini dianggap normal. Bukan sebagai penyimpangan, tapi sebagai kelaziman. Rocky menulis buku ini justru untuk menolak anggapan bahwa semua itu wajar.

PERCAKAPAN SIPIL, BUKAN POLITIK PARTAI

Obatnya bukan revolusi. Bukan pemberontakan. Rocky menawarkan sesuatu yang lebih sederhana dan justru lebih sulit dijalankan: perbanyak percakapan sipil.

Bukan percakapan politis. Bukan retorika partai. Tapi percakapan atas kesamaan pemahaman, etika, moral, dan pengetahuan. Filsafat bukan ilmu langit yang hanya milik akademisi. Filsafat adalah cara berpikir yang seharusnya dimiliki setiap warga negara yang mau merawat republik.

Akal sehat bukan hadiah dari pemimpin yang baik. Akal sehat adalah tanggung jawab setiap orang yang tidak mau dikelola oleh ketakutan.

85 tulisan. 38 tahun pemikiran. Satu tujuan: membangun republik yang dikelola akal, bukan rasa takut.

Obat Dungu Resep Akal Sehat bukan buku yang membuatmu marah pada seseorang. Buku ini membuatmu marah pada kondisi yang selama ini kamu terima begitu saja. Dan dari kemarahan yang tepat, lahirlah perubahan yang benar.