Eks Kepala CIA Sebut Donald Trump Biang Kerok Eskalasi Konflik dan Lonjakan Harga Minyak
Donald Trump
Jakarta, Satuju.com - Presiden AS Donald Trump disalahkan Mantan menteri pertahanan sekaligus direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan krisis energi global.
Ia berujar Trump telah salah langkah karena bertindak naif layaknya bocah.
Dalam percakapan telepon dengan The Guardian, Panetta mengatakan Trump bertanggung jawab sepenuhnya atas krisis energi dunia buntut ditutupnya Selat Hormuz. Ia menegaskan Selat Hormuz tak akan menjadi medan panas seperti sekarang jika bukan karena keputusan kekanak-kanakan Trump.
"Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi. Jika dia mengatakannya dan terus mengatakannya, dia berharap apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan. Tapi itu yang dilakukan anak-anak. Itu bukan yang dilakukan seorang presiden," kata Panetta kepada The Guardian.
Perang antara AS-Israel vs Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menunjukkan tanda-tanda kekalahan bagi AS. Serangan yang awalnya diharapkan menjadi pukulan telak bagi rezim Iran itu kini berubah menjadi lepas kendali.
Tiga belas anggota militer AS tewas dalam pertempuran ini. AS memang berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, namun siapa sangka pembunuhan itu bukannya mengubah rezim malah memperkuat pemerintahan teokratis Iran.
Trump saat ini mulai dirundung kesulitan menjual citra perangnya di dalam negeri. Harga minyak naik tajam buntut perang ini, dan jajak pendapat serta koalisi pemilu mulai memperlihatkan penurunan dan perpecahan.
Panetta yakin betul kondisi ini tak seperti yang dibayangkan Trump sebelumnya. Ia memprediksi Trump dan pemerintahannya sedang kelimpungan mencari cara untuk keluar dari krisis ini.
"Dia menghadapi masalah yang sangat sulit. Apakah dia akan memperluas perang dengan mencoba membuka Selat Hormuz sehingga bisa menghilangkan pengaruh dan pada akhirnya bernegosiasi dengan Iran? Atau apakah dia hanya akan pergi begitu saja dan menyatakan kemenangan, meskipun semua orang akan jelas memahami bahwa dia sudah gagal?" ucapnya.
"Dia berada dalam posisi yang sangat sulit saat ini, tapi tidak ada orang lain yang bertanggung jawab atas kondisi ini selain Donald Trump," lanjutnya.
Menurut Panetta, bukan hal sulit untuk memperhitungkan dampak pada Selat Hormuz apabila suatu pihak memutuskan perang dengan Iran. Masalah ini selalu menjadi topik pembahasan di setiap forum dewan keamanan, sehingga ia heran mengapa pemerintahan Trump tidak terpikirkan tentang ini.
"Bukan hal yang sulit untuk memahami bahwa jika Anda akan berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz, dan itu dapat menciptakan krisis minyak yang sangat besar yang dapat mendorong harga bahan bakar melambung tinggi," kata Panetta.
"Di setiap dewan keamanan nasional yang pernah saya ikuti, di mana kami membahas Iran, topik itu (Selat Hormuz) selalu muncul. Entah karena alasan tertentu, mereka tidak menganggap itu bisa jadi konsekuensi atau mereka mengira perang akan berakhir dengan cepat dan mereka tidak perlu khawatir tentang itu," ujarnya.
Apa pun alasannya, Panetta percaya bahwa Trump dan pemerintahannya tak siap menghadapi kenyataan saat ini. Apalagi, jika mengingat kepribadian Trump yang cenderung bicara dan bertindak sesukanya.
"Apa pun itu, mereka tidak siap menghadapinya dan sekarang mereka menanggung akibatnya karena jika ada jalan keluar bagi Trump, itu adalah menyatakan kemenangan dan semuanya sudah berakhir dan kita telah berhasil mencapai semua target militer kita. Masalahnya adalah dia bisa menyatakan kemenangan sesuka hatinya, tapi jika dia tidak bisa mendapat gencatan senjata, semuanya percuma," tutur Panetta.
"Dan dia tidak akan mendapat gencatan senjata selama Iran terus mengancamnya dengan Selat Hormuz."
Masalah ini hari demi hari semakin serius. Kritik terus berdatangan, baik dari oposisi maupun pendukung Trump. Di tengah tekanan ini, sekutu-sekutu AS juga tak banyak membantu.
Sikap para sekutu ini sendiri dapat dimengerti karena hal itu buah dari pendekatan kasar Trump.
Trump berulang kali mengancam akan keluar dari NATO. Ia bahkan mengolok para anggota "pengecut" dan hanya "macan kertas" tanpa AS.
"Jika Anda merencanakan perang, bukan ide buruk untuk bicara dengan sekutu Anda. Aliansi penting untuk dapat mendukung segala jenis upaya militer. Kita telah mempelajari itu sejak lama, sejak Perang Dunia Dua. Tapi [Trump] mengambil pendekatan tak berperasaan terhadap aliansi dan sekarang tiba-tiba dia berada di posisi harus meminta bantuan sekutu, NATO, dan pihak lain yang semuanya jelas tidak dia perlakukan dengan baik selama masa kepresidenannya untuk mencoba membantunya keluar dari kesulitan," ucap Panetta.
Panetta kemudian menyatakan sambil terkekeh, "Karma akan segera datang."
Menurut Panetta, hal yang bisa dilakukan Trump saat ini yaitu meninggalkan khayalannya. Ia menekankan AS harus menggunakan kekuatan militer untuk menetralisir pertahanan Iran di sepanjang pantai dan mengerahkan kapal untuk mengawal tanker minyak di Selat Hormuz.
Ia mengamini tindakan ini tentu akan memakan korban jiwa dan berpotensi memperluas perang. Namun, ini cara paling efektif untuk mengatasi krisis energi dunia sekaligus memperbaiki citra AS.
"Ini adalah ujian apakah AS mampu mengatasi situasi tersebut. Jika tidak, ini tidak hanya akan memperpanjang perang tetapi juga menciptakan banyak kerusakan ekonomi bagi AS dengan harga bahan bakar melonjak dan berujung pada resesi global," kata dia.
"Tidak banyak pilihan. Anda harus melakukan apa yang harus Anda lakukan. Jika Anda dapat membuka sellat, itu mungkin memberi Anda peluang lebih baik untuk memiliki dasar yang dapat digunakan untuk menegosiasikan gencatan senjata. Itu satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh saat ini," lanjut Panetta.
Panetta merupakan mantan perwira intelijen militer yang menjabat sebagai kepala staf Gedung Putih di pemerintahan Bill Clinton. Ia juga pernah menjabat direktur CIA dan menteri pertahanan ke-23 di bawah Presiden Barack Obama.
Saat ini, Panetta menjabat sebagai ketua Panetta Institute for Public Policy yang berbasis di California State University, Monterey Bay. Putranya, Jimmy Panetta, adalah anggota Kongres dari Partai Demokrat dari California dan mantan perwira intelijen cadangan angkatan laut.
Panetta pada kesempatan itu sempat berkomentar tentang Pete Hegseth, menteri pertahanan AS di bawah Trump saat ini. Ia berujar Hegseth "bukan menteri pertahanan" karena "dia hanyalah kaki tangan untuk apa pun yang Trump inginkan dia lakukan."

