“Gertakan Sawit” Amran Sulaiman: Antara Strategi Kedaulatan dan Ilusi Logika

Ilustrasi. (poto Ai)

Penulis: Lhynaa Marlinaa

​Satuju.com - Pernahkah Anda membayangkan dunia tanpa margarin, sabun, hingga skincare Korea kesayangan Anda? Mantan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, baru saja melempar "bom" retorika yang membuat kuping para pemain pasar global berdenging.

​Dalam sebuah orasi yang viral, Amran menyamakan posisi tawar sawit Indonesia dengan Selat Hormuz di Iran—urat nadi minyak bumi dunia. Pesannya jelas: "Jika kita tutup ekspor CPO, dunia kiamat!"

​Namun, sebelum kita terlalu jauh membusungkan dada, mari kita bedah apakah ini strategi kedaulatan yang brilian atau sekadar ilusi logika yang dibungkus semangat nasionalisme.

​Analogi yang "Terpeleset"

​Membandingkan CPO dengan Selat Hormuz adalah sebuah False Analogy. Selat Hormuz adalah jalur fisik yang tidak ada penggantinya. Jika ditutup, energi dunia lumpuh total. Sawit? Memang kita raksasa dengan pangsa pasar 60%, tapi dunia punya "cadangan" bernama minyak kedelai, bunga matahari, dan rapeseed. Dunia mungkin akan "sakit kepala" karena harga naik, tapi menganggapnya sebagai "kiamat" adalah sebuah hiperbola yang berlebihan.

​Jebakan "Slippery Slope" dan Narasi Ketakutan

​Narasi "Kiamat Dunia" adalah bentuk klasik dari Argumentum ad Baculum—argumen yang menggunakan ancaman untuk mencari pembenaran. Hilirisasi memang kunci kemajuan, tapi mengancam akan "menutup" ekspor mentah tanpa memperhitungkan perang dagang, boikot balik, atau kesiapan industri dalam negeri adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya.

​Dua Sisi Mata Uang Dominasi

​Kita bangga menguasai 80% pasar sawit bersama Malaysia. Namun, jangan lupa: ketergantungan itu dua arah. Jika kita menghentikan ekspor untuk memaksa hilirisasi instan, siapa yang akan menyerap jutaan ton CPO tersebut? Jika pasar global kolaps, jutaan petani sawit kita adalah orang pertama yang akan merasakan "kiamat" ekonomi sebelum orang Eropa kehabisan margarin mereka.

​Penutup: Antara Nyali dan Nalar

Visi hilirisasi Amran Sulaiman patut diapresiasi sebagai langkah menuju kedaulatan ekonomi. Namun, diplomasi ekonomi di panggung dunia menuntut lebih dari sekadar gertakan. Kita butuh nalar yang dingin, bukan sekadar narasi yang membakar emosi namun rapuh secara logika.

​Karena pada akhirnya, kedaulatan sejati tidak dibangun dari ancaman kiamat bagi orang lain, melainkan dari kemandirian yang kokoh di rumah sendiri.

​Bagaimana menurut Anda? Apakah "Gertakan Sawit" ini adalah cara terbaik untuk memaksa dunia tunduk pada industri hilir kita, atau justru bumerang yang mengancam petani kita sendiri?