Unggahan Panjang dr Tifa Viral: Kisah Persahabatan hingga Tudingan “Pengkhianatan” dalam Isu Dugaan Skripsi Jokowi Mengemuka

dr. Tifa dan Rismon. (poto/ist)

Pekanbaru, Satuju.com – Jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan panjang dan emosional dari Tifauzia Tyassuma atau dr Tifa, yang ditujukan kepada Rismon. Tulisan tersebut bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan narasi mendalam tentang persahabatan, perjuangan, hingga rasa kehilangan yang ia ungkapkan secara terbuka.

Dalam unggahannya, dr Tifa membuka cerita dengan mengenang momen yang ia sebut sebagai titik awal perjalanan mereka. Ia mengingat tanggal 15 April 2025 di ruang 109 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, ketika dirinya, Rismon, dan Roy Suryo untuk pertama kalinya duduk bersama.

Menurutnya, pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menggambarkan momen tersebut sebagai awal dari perjalanan besar yang sarat risiko. Dalam pertemuan itu pula, dr Tifa mengklaim bahwa mereka bertiga melihat dan memegang dokumen yang ia sebut sebagai “skripsi palsu” milik Joko Widodo.

“Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama. Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan,” tulisnya, menggambarkan kesan mendalam atas peristiwa tersebut.

Lebih jauh, dr Tifa mengungkap bahwa sejak saat itu hubungan mereka berkembang menjadi lebih dari sekadar rekan. Ia dan Roy Suryo bahkan menganggap Rismon sebagai bagian dari keluarga, layaknya seorang adik.

“Ada rasa ingin menjaga, ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat,” tulisnya, menekankan kedekatan emosional yang pernah terjalin.

Ia juga mengenang sosok Rismon pada awal perjuangan, yang disebutnya penuh semangat, keyakinan, dan keberanian. Dalam narasinya, mereka bertiga digambarkan sebagai “barisan kecil” yang memiliki misi untuk mengungkap kebenaran di tengah kondisi yang dianggap penuh ketidakjelasan.

Namun, perjalanan yang awalnya penuh optimisme itu, menurut dr Tifa, berubah menjadi penuh tantangan. Ia menggambarkan jalan yang mereka tempuh sebagai berliku, gelap, dan penuh jebakan. Bahkan, ia menyinggung bahwa luka terdalam justru datang bukan dari pihak luar, melainkan dari perubahan sikap orang yang sebelumnya berada di sisi yang sama.

Salah satu bagian yang paling disorot dalam unggahan tersebut adalah terkait isu “ijazah Yamaguchi” dan kabar mengenai surat keterangan kematian yang disebut-sebut menjadi tekanan dalam perjalanan itu. dr Tifa menilai hal tersebut menempatkan Rismon dalam situasi sulit, bahkan mungkin penuh ketakutan.

“Mungkin kamu merasa terancam, mungkin kamu merasa sendirian,” tulisnya, mencoba menggambarkan kondisi psikologis yang dihadapi Rismon.

Namun demikian, ia mempertanyakan sikap Rismon yang tidak kembali berdiskusi atau membuka komunikasi dengan dirinya dan Roy Suryo. Ia menyayangkan keputusan Rismon yang memilih diam, menjauh, hingga akhirnya berseberangan.

“Kita berjalan bukan sebagai orang asing. Kita berjalan sebagai tiga sahabat,” tegasnya dalam tulisan tersebut.

Dalam bagian yang paling emosional, dr Tifa secara langsung melontarkan pertanyaan tajam kepada Rismon, yakni alasan di balik perubahan sikap yang ia anggap sebagai bentuk pengkhianatan.

“Bukan hanya kepada kami, tapi juga kepada begitu banyak orang yang menggantungkan harapan pada perjuangan ini,” tulisnya, mengaitkan persoalan tersebut dengan harapan publik yang lebih luas.

Meski bernada kritis, dr Tifa menegaskan bahwa tulisannya tidak dilandasi kemarahan, melainkan rasa luka yang mendalam. Ia mengaku kehilangan seorang sahabat dalam perjuangan merupakan hal yang jauh lebih berat dibanding menghadapi lawan.

Ia juga menyampaikan pesan reflektif bahwa kebenaran, menurutnya, tidak akan berubah meskipun manusia dapat berubah. Dalam bagian penutup, dr Tifa memberikan ruang bagi Rismon untuk kembali.

“Pintu untuk kembali pada kebenaran tidak pernah tertutup,” tulisnya, menegaskan bahwa selalu ada jalan pulang selama ada keberanian untuk bersikap jujur.