Panggung Memanas, Feri Amsari vs Ahmad Alimuddin Adu Data Soal Beras
Feri Amsari vs Ahmad Alimuddin Adu Data Soal Beras
Satuju.com - Diskusi publik "Rakyat Bersuara" yang digelar baru baru ini berlangsung sengit. Tensi perdebatan data antara Feri Amsari, akademisi hukum tata negara yang dikenal kritis, dan Ahmad Alimuddin, yang hadir diduga sebagai representasi klaim keberhasilan pemerintah di sektor pangan.
Acara yang berlangsung dengan format panggung terbuka dan dihadiri penonton ini, berubah menjadi ajang adu argumentasi yang panas ketika topik swasembada beras mengemuka. Ahmad Alimuddin membuka bantahan dengan nada optimis. Ia mengklaim bahwa luas sawah bertambah dan hasil panen melimpah. Ia merujuk data BPS dan Kementerian Pertanian sebagai bukti otentik.
"Mana Datanya?" tanya Feri
"Abang bisa cek data BPS. Abang bisa cek data Kementan," ujar Ahmad dengan percaya diri.
"Saya khawatirnya abang memang gak ngeliat datanya. Takutnya gitu loh", sembari sedikit menyindir bahwa Feri mungkin selama ini "gak ngeliat data".
Feri Amsari yang duduk tak jauh dari panggung sontak tersulut dan naik ke atas panggung. Dengan gestur khasnya yang ekspresif, ia langsung menantang balik.
Logika Harga Kalau Swasembada, Harga Turun Dong?
Tak hanya soal data luas lahan, Feri melontarkan kritik mendasar tentang logika ekonomi. Baginya, jika benar-benar terjadi swasembada pangan, seharusnya harga beras di pasar turun drastis.
"Kalau harga beras itu betul-betul jadi bagian terhadap jumlah kuantitas beras, maka ketika swasembada, relatif harga beras itu pasti turun. Itu kejujuran data sebenarnya," tegasnya.
Feri pun mempertanyakan klaim bahwa luas sawah bertambah. Ia meragukan validitas data BPS yang menurutnya mulai dipertanyakan banyak orang.
"Data BPS di sebagian pemerintah ini dipertanyakan orang. Termasuk juga dengan jumlah panen yang berlimpah," sindirnya.
Kontroversi Impor Beras dari Amerika, "Lidah Indonesia Dikalahkan Amerika?"
Puncak kegaduhan terjadi ketika Feri mengangkat isu impor beras dari Amerika Serikat. Menurutnya, jika produksi dalam negeri melimpah, tidak mungkin pemerintah masih mengimpor beras.
"Kalau panen berlimpah, tidak mungkin kita impor dari Amerika. Beras impor dari Amerika itu beras elit, kualitas bagus," ujarnya dengan nada sedikit sinis.
Feri yang mengaku sebagai orang Minang dan pernah sekolah di Amerika, dengan tegas menyatakan bahwa beras Indonesia lebih enak daripada beras Amerika.
"Mohon maaf saya, saya orang Minang. Saya merasa lidah Indonesia saya, beras Indonesia itu jauh lebih baik dari Amerika. Kebetulan saya sekolah di Amerika, seberapa elitnya, sampai kita mikirkan beras itu harus impor dari Amerika?"
Ia bahkan menyebut beberapa daerah penghasil beras enak di Indonesia, Solo, Bandung, dan Jawa umumnya.
"Solo lebih enak. Di Bandung juga banyak enak. Di Jawa juga banyak enak. Kok tiba-tiba lidah Indonesia ditentukan oleh beras Amerika? Sebagai petani, saya merasa beras yang dihasilkan oleh sawah kita itu jauh lebih enak. Jadi aneh juga logika impor itu," beber Feri dengan nada tinggi.
Data Harga yang "Tipis" Bukti Pasar Dikuasai Beras Impor?
Feri kemudian merujuk pada data harga beras di pasar modern dan pasar tradisional yang dinilainya "tipis". Baginya, ini adalah bukti bahwa beras yang beredar di pasar-pasar tersebut berasal dari impor, sehingga harganya tidak kunjung turun.
Di akhir pernyataannya, Feri Amsari tak lagi berbicara untuk dirinya sendiri. Ia menantang pemerintah untuk terbuka dan transparan.
"Saya bukan menyatakan pendapat saya benar dengan data-data ini, tapi negara ayo terbuka. Tunjukkan Feri Amsari itu salah. Dengan begitu orang bahagia."
Ia menegaskan bahwa tidak ada rasa malu dalam mengakui kesalahan. Tapi jika negara terus menyembunyikan data, maka yang terjadi justru kekonyolan.
