MBG di Bawah Bayang Skandal: Dari Program Gizi ke Dugaan Bancakan Anggaran

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi krusial pengentasan stunting di Indonesia kini berada di bawah bayang-bayang skandal besar. Sebuah dokumen investigasi bernomor SHADOW-BGN-PARIS-0417 tertanggal 17 April 2026, mengungkap dugaan pemborosan anggaran sistematis yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN).

​Bukannya menyasar perut rakyat yang lapar, aliran dana negara diduga kuat justru menguap untuk gaya hidup mewah pejabat dan pengayaan lingkaran vendor "kroni".

​Manipulasi Perangkat: Tablet Murah, Harga Sultan

​Temuan paling mencolok dalam laporan tersebut adalah penggelembungan harga (markup) gila-gilaan pada pengadaan perangkat teknologi informasi. Data menunjukkan ketimpangan harga yang tidak masuk akal:

​Skandal Tablet Operasional: BGN mengalokasikan Rp510,1 miliar untuk 30.000 unit tablet dengan harga satuan Rp17 juta. Padahal, pengecekan harga pasar untuk spesifikasi serupa hanya berada di angka Rp1,2 juta hingga Rp2 juta.

​Laptop Staf: Sebanyak 32.000 unit laptop dianggarkan sebesar Rp544 miliar, dengan harga satuan yang sama-sama dipatok di angka Rp17 juta, jauh melampaui standar harga pengadaan pemerintah pada umumnya.

​Jejak Mewah di Paris dan Upeti Vendor

​Investigasi ini juga melacak aroma gratifikasi internasional yang melibatkan Global Tech Infrastructure (GTI), vendor utama proyek IT di BGN.

​Pada April 2026, sebuah manifes mengungkapkan rombongan delegasi menginap di hotel super-mewah Four Seasons Hotel George V, Paris, dengan tarif fantastis berkisar Rp36 juta hingga Rp216 juta per malam. Biaya akomodasi ini diduga ditalangi oleh GTI, yang kemudian "menagih" biaya tersebut melalui revisi Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek Fase 2 di BGN.

​Gurita Vendor Tunggal dan Dinasti Bisnis

​Pola pengadaan di BGN disinyalir tidak dilakukan secara transparan. Penunjukan langsung mendominasi proyek-proyek strategis yang jatuh ke tangan konsorsium yang berafiliasi dengan keluarga pejabat tinggi:

​PT Sinergi Event Nusantara: Memonopoli logistik acara hingga pengadaan IT.

​PT Sinergi Creative: Mengelola komunikasi publik dengan dana negara, namun diduga digunakan untuk pencitraan pribadi pejabat.

​Pengadaan Motor Listrik: Tender 20.000 unit motor listrik dimenangkan oleh entitas bernama Yenna, perusahaan yang disebut-sebut memiliki rekam jejak pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

​Fasilitas Negara untuk Pesta Pribadi

​Korupsi ini tidak hanya berhenti pada angka-angka di atas kertas. Investigasi menemukan bukti penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan personal, termasuk perayaan ulang tahun pribadi pejabat yang menggunakan tim kreatif profesional dengan biaya yang dibebankan pada anggaran instansi.

​"Program Makan Bergizi Gratis yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan anak bangsa, kini terancam lumpuh oleh praktik pengayaan diri yang terorganisir." Kesimpulan Laporan SHADOW-BGN-PARIS-0417.

​Hingga berita ini diturunkan, publik menanti langkah tegas dari otoritas pengawas keuangan dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kebocoran anggaran yang mencederai keadilan sosial ini.