Narasi Bencana Dipertanyakan, Seminar Nasional Soroti Peran Manusia dalam Krisis Lingkungan
Seminar Nasional Soroti Peran Manusia dalam Krisis Lingkungan
Jakarta, Satuju.com – Cara pandang terhadap bencana di Indonesia mulai dipertanyakan. Di tengah meningkatnya kejadian bencana ekstrem dalam beberapa tahun terakhir, muncul dorongan untuk meninjau ulang apakah peristiwa seperti banjir bandang, longsor, hingga krisis ekologis semata-mata disebabkan oleh faktor alam, atau justru dipengaruhi secara signifikan oleh aktivitas manusia.
Fenomena bencana besar yang terjadi di Sumatera pada akhir 2025 menjadi salah satu contoh nyata. Meski dipicu oleh curah hujan ekstrem dan perubahan iklim, dampak kerusakan yang meluas dinilai tidak lepas dari praktik manusia seperti deforestasi, eksploitasi sumber daya alam, serta lemahnya tata kelola lingkungan.
Dalam perspektif keilmuan modern, kondisi ini dikenal sebagai konsep antroposen, yakni era ketika aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang membentuk perubahan di bumi. Akibatnya, batas antara “bencana alam” dan “bencana akibat ulah manusia” semakin kabur.
Namun, dalam wacana publik maupun kebijakan, istilah “bencana alam” masih kerap digunakan secara dominan. Penyederhanaan ini dinilai berisiko menutupi akar persoalan, sehingga solusi yang diambil sering kali tidak menyentuh penyebab utama.
Untuk mengupas isu tersebut secara komprehensif, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Komisi Kebudayaan bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Universitas Budi Luhur akan menggelar Seminar Nasional Hibrida bertajuk “Mengkritisi Realita dan Wacana: Bencana Alam dan/atau Bencana Antroposen?”.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, pukul 13.00–16.30 WIB di kampus Universitas Budi Luhur, Jakarta Selatan, serta dapat diikuti secara daring melalui Zoom dan YouTube.
Seminar ini menjadi pembuka rangkaian kajian strategis AIPI tahun 2026 dengan tema besar “Quo Vadis Bencana Antroposen: Cegah Kehancuran Bumi Nusantara”. Forum ini tidak hanya menghadirkan paparan ilmiah, tetapi juga pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan analisis wacana, kajian empiris kebencanaan, hingga refleksi filosofis berbasis nilai Pancasila.
Sejumlah akademisi dan pakar dijadwalkan menjadi narasumber, di antaranya Yasraf A. Piliang, Prudensius Maring, serta M. Amin Abdullah. Mereka akan membahas berbagai kasus bencana di sejumlah wilayah seperti Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Aceh, Riau, hingga Papua.
Diskusi juga akan mengulas fenomena perubahan iklim dari perspektif ilmiah, termasuk peran faktor meteorologi, ekologi, hingga kebijakan pembangunan dalam memperparah risiko bencana.
Melalui seminar ini, penyelenggara berharap dapat meluruskan pemahaman publik terkait jenis dan penyebab bencana, mendorong lahirnya kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kesadaran kolektif bahwa bencana bukan sekadar takdir, melainkan juga konsekuensi dari pilihan manusia.
Selain itu, hasil diskusi akan dirangkum menjadi rekomendasi kebijakan dalam bentuk policy brief yang dapat menjadi kontribusi strategis bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan kebencanaan ke depan.
Seminar ini terbuka untuk umum, termasuk kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi kebencanaan, hingga pengambil kebijakan, dengan harapan mampu membangun perspektif baru yang lebih kritis dan komprehensif dalam memahami bencana di Indonesia.
