Haji dan Kurban Harus Melahirkan Kepedulian Sosial, Ini Pesan PP Muhammadiyah

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.com - Umat Islam diajak Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrohman menjadikan ibadah haji dan kurban sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus kepedulian sosial.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (8/9).

Dalam khutbahnya, Agus menyinggung keberangkatan ratusan ribu jemaah haji Indonesia tahun ini ke Tanah Suci. Ia menyebut sekitar 221 ribu umat Islam Indonesia diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji, terdiri dari sekitar 203 ribu jemaah reguler dan sisanya jemaah haji khusus.

“Tentu kita bersyukur ketika menjadi bagian dari tamu Allah dan semoga suatu saat kita semua dimampukan menjadi bagian dari tamu Allah,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa ibadah haji merupakan kewajiban bagi mereka yang memenuhi syarat kemampuan atau istitha’ah, sebagaimana firman Allah, “Walillahi ‘alan nasi hijjul baiti manis tathaa’a ilaihi sabiila.”

Agus kemudian menjelaskan besarnya keutamaan ibadah haji. Ia mengutip hadis Rasulullah Saw yang menyebut tidak ada hari ketika Allah memberikan ampunan lebih banyak selain kepada hamba-hamba-Nya yang wukuf di Arafah. Ia juga mengingatkan sabda Nabi bahwa orang yang berhaji tanpa berkata kotor dan berbuat fasik akan kembali dalam keadaan bersih dari dosa seperti bayi yang baru dilahirkan.

Menurutnya, puncak dari ibadah haji adalah meraih predikat haji mabrur. Ia mengutip hadis Nabi, “Alhajju mabrur laisa lahu jaza’ illal jannah,” bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga.

Namun, Agus menegaskan bahwa haji mabrur bukan sekadar status spiritual pribadi, melainkan harus tercermin dalam perilaku sosial setelah pulang dari Tanah Suci. Ia menjelaskan ciri haji mabrur sebagaimana disebutkan Rasulullah saw., yakni ith‘amut tha‘am dan linul kalam.

“Haji mabrur itu ditandai suka memberi makan, suka menolong, suka berbagi. Dan ucapan-ucapannya menjadi lembut serta santun,” katanya.

Ia menyebut haji mabrur juga dapat dimaknai sebagai haji yang membawa keberkahan, yakni bertambahnya kebaikan dalam diri seseorang serta hadirnya dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam khutbahnya, Agus turut menyampaikan autokritik terhadap kehidupan keberagamaan di Indonesia. Menurutnya, Indonesia hampir selalu menjadi negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia, tetapi suasana sosial masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan religiusitas yang signifikan.

“Ada pertanyaan dari sesama umat Islam, mengapa Indonesia selalu mengirim calon haji terbanyak, tetapi kepulangannya belum mampu mengubah suasana bangsa ini menjadi semakin religius,” ujarnya.

Ia menilai pertanyaan tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim yang mendapat panggilan berhaji benar-benar menjaga kemabruran hajinya melalui pelaksanaan manasik sesuai tuntunan Rasulullah serta menjaga perilaku setelah kembali ke tanah air.