Pesan Irving Berlin tentang Makna Bersyukur dan Bahaya Ambisi

Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.(pito/ist)

By: Wahyudi El Panggabean

Pesan Irving Berlin soal ambisi dan makna bersyukur kembali relevan di tengah gaya hidup materialistis modern.

Satuju.com - Pesan tentang makna bersyukur yang disampaikan musisi legendaris Irving Berlin kembali menjadi sorotan. Komposer asal Amerika Serikat itu meninggalkan refleksi mendalam tentang ambisi manusia dan rasa puas dalam hidup.

Irving Berlin dikenal sebagai salah satu musisi terbesar sepanjang sejarah Amerika. Ia wafat pada usia 101 tahun setelah mewariskan ratusan karya musik yang dikenang lintas generasi.

Di balik syair lagu-lagunya, Berlin pernah melontarkan kalimat yang dinilai relevan hingga kini, terutama di tengah gaya hidup modern yang serba kompetitif.

"Setelah Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda tidak menginginkannya lagi," kata Irving Berlin.

Ungkapan tersebut menggambarkan siklus ambisi manusia yang kerap merasa kurang meski telah mencapai target yang diinginkan. Banyak orang mengejar jabatan, kekayaan, hingga gaya hidup mewah dengan harapan menemukan kebahagiaan.

Namun, setelah tujuan tercapai, rasa puas sering hanya bertahan sesaat. Kondisi itu memunculkan keinginan baru yang lebih besar dan membuat seseorang kembali terjebak dalam perlombaan tanpa akhir.

Fenomena tersebut juga mendapat perhatian dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur [102]: 1-2).

Ayat itu menjelaskan kecenderungan manusia yang terus mengejar harta dan status sosial hingga melupakan hakikat kehidupan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan soal sifat tamak manusia melalui hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

"Seandainya manusia memiliki dua lembah berisi harta, niscaya ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut manusia (keserakahannya) kecuali tanah (kematian), serta Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan tersebut menegaskan bahwa keinginan manusia tidak akan pernah selesai apabila tidak dibatasi rasa syukur dan pengendalian diri.

Dalam Islam, konsep qana'ah atau merasa cukup menjadi salah satu cara menjaga ketenangan hidup. Sikap itu mendorong seseorang untuk fokus mensyukuri apa yang dimiliki, bukan terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Makna bersyukur dinilai menjadi kunci untuk keluar dari tekanan ambisi materialistis. Dengan rasa cukup, seseorang dapat menikmati hasil perjuangan tanpa dihantui keinginan yang terus bertambah.


BERITA TERKAIT