Habibie Pilih Selamatkan Rakyat, Proyek N250 Rela Dihentikan
Ilustrasi Rupiah Anjlok, Habibie Hentikan N250 Demi Selamatkan Ekonomi. (poto/AI)
B.J. Habibie mengungkap alasan menghentikan proyek N250 saat krisis moneter demi menyelamatkan ekonomi dan rakyat Indonesia.
Satuju.com - Keputusan B. J. Habibie menghentikan proyek pesawat N250 kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya dalam wawancara bersama Najwa Shihab ramai diperbincangkan. Habibie saat itu memilih menyelamatkan ekonomi rakyat dibanding mempertahankan ambisi besar industri dirgantara nasional.
Nama Habibie selama ini dikenal sebagai simbol kemajuan teknologi Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, industri pesawat nasional berkembang dan melahirkan N250, pesawat karya anak bangsa yang sempat menarik perhatian dunia internasional.
Namun situasi berubah drastis ketika Indonesia diterpa krisis moneter pada akhir 1990-an. Nilai rupiah jatuh, inflasi melonjak, suku bunga tinggi, serta gelombang pemutusan hubungan kerja meluas di berbagai sektor.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah menghadapi tekanan besar untuk memulihkan stabilitas ekonomi nasional. Habibie mengakui proyek industri strategis membutuhkan biaya besar, sementara masyarakat saat itu kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
“Orang antre, makanan kurang, PHK banyak. Itu lebih penting dari pesawat terbang itu.”
Pernyataan itu menunjukkan keputusan menghentikan proyek N250 bukan karena Habibie meninggalkan cita-cita industri dirgantara. Ia menilai keselamatan rakyat harus menjadi prioritas utama di tengah ancaman krisis yang semakin parah.
Habibie juga mengungkap keraguan dunia internasional terhadap kepemimpinannya saat itu. Ia menyebut nama Lee Kuan Yew sebagai salah satu tokoh yang sempat memprediksi nilai rupiah bisa semakin terpuruk jika dirinya memimpin Indonesia.
Narasi yang berkembang kala itu menempatkan Habibie hanya sebagai teknokrat dan pembuat pesawat, bukan sosok yang diyakini mampu membawa Indonesia keluar dari tekanan ekonomi.
Di tengah situasi tersebut, Habibie akhirnya mengambil keputusan yang paling berat dalam perjalanan politiknya. Ia memilih menunda mimpi besar industri pesawat nasional demi menjaga stabilitas negara dan kepentingan masyarakat luas.
Bagian paling menyentuh muncul ketika Habibie menjelaskan alasan di balik langkah tersebut.
“Saya ngalah, untuk menang.”
Saat Najwa Shihab bertanya siapa yang menang, Habibie menjawab singkat:
“Yang menang itu rakyat.”
Pernyataan itu kemudian menjadi gambaran cara Habibie memandang kepemimpinan, yakni menempatkan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi maupun kebanggaan teknologi nasional.
