DAMPAK DOLAR BAGI DESA

Dolar AS Menguat, Ekonomi Desa Kian Tertekan

Ilustrasi Desa tidak perlu bayar dengan Dolar untuk merasakan dampak dolar. (poto AI /SyafruddinKarimi)

Penguatan dolar AS memicu kenaikan biaya produksi dan harga kebutuhan di desa. Petani hingga warga kecil mulai merasakan tekanan ekonomi.

Satuju.com - Penguatan dolar AS terhadap rupiah mulai memberi tekanan besar terhadap ekonomi desa. Kenaikan harga pupuk, ongkos distribusi, hingga kebutuhan pokok membuat masyarakat desa menjadi kelompok yang paling cepat terdampak situasi ekonomi global.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai dampak penguatan dolar kini tidak lagi terbatas pada sektor industri besar atau pasar keuangan.

“Desa tidak perlu membayar dengan dolar untuk merasakan dampak dolar,” kata Syafruddin Karimi.

Menurutnya, ekonomi desa saat ini sudah terhubung langsung dengan rantai ekonomi global. Pergerakan dolar di pasar internasional bisa berdampak hingga ke aktivitas pertanian dan perdagangan di desa.

Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya biaya produksi pertanian. Sejumlah kebutuhan seperti pupuk non-subsidi, pestisida, pakan ternak, hingga suku cadang alat pertanian masih bergantung pada komponen impor.

Saat dolar menguat dan rupiah melemah, harga kebutuhan produksi ikut melonjak. Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan hasil panen.

Di sisi lain, harga jual hasil pertanian tidak selalu naik sebanding dengan kenaikan biaya produksi. Situasi itu membuat margin keuntungan petani semakin tertekan.

Dampak penguatan dolar juga merembet ke kebutuhan rumah tangga masyarakat desa. Kenaikan biaya impor mendorong naiknya harga barang di pasar. Ongkos transportasi dan distribusi yang meningkat membuat harga kebutuhan pokok di warung desa ikut terkerek.

Sementara pendapatan warga cenderung stagnan. Kondisi ini menyebabkan daya beli masyarakat desa terus melemah.

Syafruddin menegaskan desa tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah gejolak ekonomi global. Menurutnya, penguatan ekonomi lokal harus menjadi prioritas agar desa lebih tahan menghadapi tekanan kurs dolar.

Salah satu langkah yang dinilai penting ialah mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Penggunaan pupuk organik dan bahan produksi lokal dinilai bisa membantu menekan biaya pertanian.

Selain itu, hasil pertanian desa juga perlu diolah di daerah sendiri agar memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan.

Penguatan BUMDes, koperasi pangan, serta distribusi lokal juga dinilai menjadi kunci memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.

Syafruddin menekankan bahwa kekuatan ekonomi nasional tidak hanya ditentukan oleh aktivitas bisnis di kota besar, tetapi juga kemampuan desa bertahan menghadapi tekanan ekonomi global.


BERITA TERKAIT