Film Dokumenter Pesta Babi Bongkar Dampak PSN di Papua Selatan
Ilustrasi KOLONIALISME BARU. (poto AI)
Film dokumenter Pesta Babi menyoroti dampak proyek strategis nasional di Papua Selatan terhadap masyarakat adat dan lingkungan.
Satuju.com - Film dokumenter *Pesta Babi* kembali memantik perhatian publik setelah mengangkat dampak proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu menyoroti ekspansi food estate, perkebunan tebu bioetanol, hingga sawit di Merauke yang disebut mengancam ruang hidup masyarakat adat.
Dalam film tersebut, pemerintah disebut merencanakan kawasan pangan dan energi seluas lebih dari 2 juta hektare di Merauke. Proyek itu berdampak langsung terhadap masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang selama ini menggantungkan hidup dari hutan sagu dan sungai.
Penulis naskah, Andrian Saputra, mengaku film itu membuka pandangannya terhadap situasi di Papua Selatan. Ia menilai eksploitasi sumber daya di wilayah tersebut berlangsung secara perlahan dan terstruktur.
“Kalau dulu kolonialisme dan penjajahan datang dengan membawa kapal dan meriam, sekarang ia masuk dengan Excavator,” tulisnya.
Menurutnya, masyarakat luas selama ini lebih mudah tersentuh oleh bencana yang terlihat nyata dibanding persoalan sosial yang berjalan diam-diam. Ia mencontohkan solidaritas besar masyarakat Indonesia saat Aceh dilanda tsunami, sementara kondisi di Papua Selatan belum mendapat perhatian serupa.
Salah satu adegan yang paling disorot dalam film itu adalah ketika seorang perempuan adat, Yasinta Moiwend, berdiri di depan patok proyek sambil memegang salib merah.
“Kami bukan tanah kosong,” ujar Yasinta dalam cuplikan dokumenter tersebut.
Film *Pesta Babi* juga menuai kontroversi di sejumlah daerah. Beberapa agenda nonton bareng di kampus dilaporkan dibubarkan. Namun, sejumlah pejabat menyatakan pemerintah tidak pernah menginstruksikan pelarangan pemutaran film tersebut.
Di sisi lain, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Jenderal Maruli Simanjuntak sempat mempertanyakan sumber pendanaan film itu. Pernyataan tersebut kemudian ramai dibahas di media sosial.
Andrian menilai polemik tersebut justru membuat perhatian publik terhadap film semakin besar. Ia bahkan mengusulkan agar *Pesta Babi* diputar secara nasional setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia sebagai refleksi terhadap persoalan ketimpangan di Papua.
Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya soal simbol, tetapi juga jaminan rasa aman bagi masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.
“Karena jika tidak, apa bedanya Kolonialisme yang dulu datang dengan kapal dan meriam, hanya kali ini senjatanya adalah ribuan Excavator?” tulisnya.
