Mama Sinta Tinggalkan LBH, Kini Dukung Pemerintah dan PSN Merauke

Ilustrasi pengakuan mengejutkan Mama Sinta Perempuan Adat yang kini balik dukung pemerintah. (poto AI/Andrian Saputra)

Satuju.com - Mama Sinta dukung pemerintah menjadi sorotan setelah perempuan adat Marind asal Merauke, Papua Selatan, itu menyatakan keluar dari pendampingan LBH Papua Pusaka dan memilih mendukung proyek strategis nasional (PSN) food estate yang sebelumnya ia tolak.

Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Sinta sebelumnya dikenal luas sebagai simbol penolakan masyarakat adat terhadap proyek PSN di Merauke. Wajahnya bahkan muncul dalam film dokumenter kontroversial berjudul *Pesta Babi* yang mengangkat isu pembukaan lahan di wilayah adat Marind.

Namun, sikap Mama Sinta kini berubah drastis. Dalam video pernyataan yang beredar pada Sabtu (23/5/2026), ia mengaku kecewa terhadap pihak yang selama ini mendampinginya.

“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Saya mau cari pekerjaan di perusahaan,” ujar Mama Sinta.

Ia mengaku awalnya diajak seorang aktivis bernama Aris untuk menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan oleh pemerintah. Saat itu, ia mengaku ingin melindungi hutan dan tanah adat.

Namun dalam perjalanannya, Mama Sinta merasa dirinya hanya dijadikan alat untuk membangun opini publik. Ia juga menyesalkan kemunculannya dalam film dokumenter tanpa izin.

“Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” tuturnya.

Mama Sinta mengatakan dirinya beberapa kali diajak menghadiri kegiatan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Jayapura, dan Makassar. Meski demikian, ia merasa kondisi hidupnya tidak pernah berubah.

“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, tapi uang duduknya cuma segitu. Sementara kehidupan saya di kampung tidak berubah,” ungkapnya.

Ia mengaku masih hidup dalam keterbatasan. Rumahnya disebut tidak layak huni dan anak-anaknya belum memiliki pekerjaan tetap. Kondisi itu membuatnya memilih mendekati perusahaan yang beroperasi di wilayahnya demi mencari pekerjaan.

“Saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi. Dulu itu saya dimanfaatkan, diajak oleh orang-orang LBH,” tegasnya.

Mama Sinta juga menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai pernyataan penolakan yang pernah ia sampaikan sebelumnya.

“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa,” ujarnya.

Kini, Mama Sinta berharap pemerintah bersama perusahaan yang menjalankan proyek PSN dapat membantu masyarakat adat, termasuk membuka lapangan kerja dan memperbaiki fasilitas tempat tinggal warga.

“Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung. Perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” pungkasnya.

Perubahan sikap Mama Sinta memunculkan perhatian publik terkait dinamika pendampingan masyarakat adat di Papua, sekaligus dampak sosial dari proyek strategis nasional di Merauke.


BERITA TERKAIT