Blackout Sumatera Disorot, Logika “Kabel Tak Rapi” Dipatahkan Netizen
Bareskrim pastikan blackout Sumatra bukan sabotase, Kabel berserabut bukan dipotong. (ilustrasi (poto AI/Lhynaa Marlinaa)
Blackout Sumatera memicu polemik usai penjelasan awal soal kabel putus dinilai lemah. Netizen soroti dugaan sabotase.
Satuju.com - Blackout Sumatera kembali menjadi sorotan publik setelah penjelasan awal terkait dugaan sabotase pada kabel transmisi menuai kritik tajam. Pernyataan aparat soal kondisi kabel putus yang dinilai “tidak rapi” justru memancing perdebatan luas di media sosial.
Wakabareskrim Polri, Irjen Nunung Syaifuddin, menyebut temuan awal di lapangan belum mengarah pada unsur sabotase. Ia menilai bentuk kabel transmisi yang putus tampak berserabut dan tidak menunjukkan pola pemotongan presisi.
"Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi," tegasnya kepada publik.
Meski demikian, kepolisian memastikan investigasi tetap berlanjut dengan melibatkan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) guna menguji penyebab pasti putusnya kabel transmisi yang memicu gangguan listrik massal di sejumlah wilayah Sumatera.
Pernyataan tersebut justru memantik respons kritis dari publik. Salah satu komentar netizen yang ramai diperbincangkan mempertanyakan dasar logika kesimpulan awal aparat.
"Jika diputus pakai palu, apakah potongannya lurus?" tulis seorang netizen.
Komentar itu kemudian memicu diskusi luas mengenai kemungkinan metode perusakan kabel yang tidak selalu menghasilkan potongan rapi. Warganet menilai tindakan sabotase tidak selalu menggunakan alat pemotong presisi, melainkan bisa dilakukan dengan hantaman benda tumpul, tarikan paksa, hingga metode lain yang membuat kabel tampak koyak dan kasar.
Pengamat publik juga menyoroti pentingnya pembuktian ilmiah dalam kasus blackout Sumatera. Mereka menilai analisis visual semata belum cukup untuk menyingkirkan dugaan sabotase sebelum hasil uji laboratorium forensik keluar.
Selain itu, muncul pandangan bahwa pelaku perusakan fasilitas strategis justru bisa saja sengaja membuat kerusakan terlihat seperti faktor teknis biasa agar tidak langsung dicurigai sebagai aksi sabotase.
Hingga kini, penyelidikan penyebab blackout Sumatera masih berlangsung. Publik mendesak aparat membuka hasil investigasi secara transparan mengingat gangguan listrik tersebut berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi dan layanan masyarakat di sejumlah daerah.
