Butet Kartaredjasa Bacakan Puisi “Jika” di Kampus UII, Singgung Kekuasaan hingga Pajak Rakyat

Butet Kartaredjasa. (poto/ist)

Yogyakarta, Satuju.com – Budayawan Butet Kartaredjasa membacakan puisi terbarunya berjudul “Jika” dalam sebuah forum di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta baru-baru ini. Kegiatan tersebut turut dihadiri Mahfud MD, Rocky Gerung, dan sejumlah tokoh lainnya.

Sebelum membacakan puisinya, Butet sempat melontarkan candaan kepada Rocky Gerung yang disambut tawa peserta forum.

“Jadi semakin mantap kalau nanti Rocky sudah mengkomandoi revolusi, puisi ini menyempurnakan keresahan kita bersama. Revolusi!” ucap Butet.

Puisi berjudul “Jika” itu berisi kritik sosial dan sindiran terhadap praktik kekuasaan, hukum, pendidikan, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Jika hanya kejahatan yang menggumpal dalam pikiran,

maka setiap hembusan nafasku adalah pisau yang membunuh segala makhluk.

Jika yang menyebabkan aku bertahta hanya siasat dan akal-akalan,

maka ketika berkuasa aku konsisten plonga-plongo, tak tahu mau bicara apa

Jika cuma senapan yang membuat aku berwibawa,

maka aku hanya bisa memberondongkan peluru supaya tetap berwibawa

Jika kegagahan terlihat genit dan melambai,

maka hanya pria kemayu kuutamakan menguji kejantananku.

Di sini, Butet menyela dengan Bahasa Jawa: (Ngerti karepetah? Nggak ngerti ya goblok permanen)

Jika terlalu lama digigit kelaparan karena tiada ruang dan kesempatan perampokan,

maka kuciptakan ruang-ruang supaya mereka mudah lakukan penjarahan

Jika aku senantiasa dahaga tambang nikel, tambang timah, dan batu bara,

maka kurancang undang-undang yang bikin kenyang makan aneka tambang mineral dan semua pertambangan

Jika para pemimpin tidak malu-malu merampok dengan kedok pemberian gizi dan membangun koperasi,

maka sesungguhnya para pemimpin sedang menyiapkan diri di gulung zaman dan mengonggok di dalam bui

Jika setoran pajak rakyat untuk pesta ulang tahun penguasa dan peliharaannya,

maka rakyat akan mengirim doa agar para penguasa terjungkal sebelum tiba waktunya

Jika aku menenggak keringat rakyat dan menikmati jerit rakyat yang kelaparan,

maka sesungguhnya aku sedang menunggu amuk rakyat merajam nasibku

Jika hukum kujadikan bola ping-pong untuk mainan,

maka pada saatnya hukum akan menggorok leherku dan tamatlah riwayatku

Jika atas nama kekuasaan aku membungkam kebebasan berpikir dan berpendapat,

maka aku akan sirna diserang suara-suara bisu yang cerdas dan mematikan

Butet menyela lagi sembari menyapa audien: (Dan itu adalah suara kalian semua)

Jika pendidikan kuhancur-leburkan karena dana pendidikan kusiapkan untuk bikin tai,

maka orang-orang pintar di masa depan akan melumatkan aku ke dalam septic tank sebagai tinja

Jika aku mencuri berkedok koperasi,

maka ketika topengku terbuka tampak wajahku penuh darah dan nanah.


BERITA TERKAIT