Kritik Kurikulum Bahasa Asing Dinilai Ikuti Agenda Kunjungan Presiden
kunjungan Presiden ke luar negeri.(poto/ist/Andrian Saputra)
Sindiran terhadap kebijakan kurikulum bahasa asing viral di media sosial. Arah pendidikan dinilai mengikuti agenda kunjungan Presiden.
Satuju.com - Kurikulum bahasa asing Indonesia kembali menjadi sorotan setelah muncul sindiran tajam terkait arah kebijakan pendidikan yang dianggap mengikuti agenda kunjungan Presiden ke luar negeri. Kritik tersebut ramai diperbincangkan karena menilai perubahan bahasa asing di sekolah lebih bernuansa diplomasi simbolik dibanding kebutuhan akademik.
Dalam narasi yang beredar, kebijakan pendidikan disebut bergerak cepat setiap kali Presiden melakukan lawatan internasional. Sindiran itu menggambarkan seolah-olah kementerian pendidikan harus segera menyesuaikan kurikulum sesuai negara tujuan kunjungan kenegaraan.
Penulis menyebut fenomena itu sebagai “diplomasi pencitraan”, “basa-basi kosmetik”, hingga “politik menyenangkan tuan rumah” atau pleasing the host.
Kritik tersebut juga menggambarkan suasana rapat imajiner di kementerian pendidikan.
Staf Ahli: "Pak, kurikulum Bahasa Portugis hasil kunjungan ke Brasil bulan Oktober tahun lalu baru saja selesai dicetak dan siap didistribusikan ke sekolah-sekolah."
Menteri: (Sambil melihat berita tanggal 28 Mei) "Tahan dulu! Tolong hubungi percetakan. Tolong ganti bab 'Obrigado' menjadi 'Merci'. Pak Presiden baru saja mendarat di Paris."
Narasi itu menyindir arah pendidikan bahasa asing yang dianggap tidak lagi berpijak pada kebutuhan pasar kerja, riset pendidikan, atau kepentingan jangka panjang siswa. Penulis bahkan menilai kebijakan tersebut lebih dipengaruhi “koordinat GPS pesawat kepresidenan”.
Sindiran semakin tajam ketika penulis menyebut sekolah kini seolah harus menunggu jadwal penerbangan Presiden sebelum mencetak buku pelajaran baru.
“Di mana bumi dipijak, di situ bahasa nasional mereka harus masuk kurikulum kita,” tulisnya.
Di akhir tulisan, kritik dikemas dengan humor satir terkait kemungkinan kunjungan Presiden ke tempat-tempat eksotis.
“Untungnya Presiden belum sempat berkunjung ke Planet Mars. Kalau iya, bisa-bisa anak-anak SD sudah diwajibkan belajar bahasa alien demi memperkuat hubungan bilateral antargalaksi,” tulis Andrian Saputra.
Tulisan bernada satire politik tersebut kini ramai dibagikan di media sosial dan memicu diskusi soal arah kebijakan pendidikan nasional, khususnya terkait prioritas pengajaran bahasa asing di Indonesia.
Oleh: Andrian Saputra
