Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 Pekan Depan, Analis Khawatir Pelemahan Makin Tak Terkendali
Ilustrasi Rupiah-Dolar. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan melanjutkan tren pelemahan dalam waktu dekat. Bahkan, sejumlah analis memprediksi mata uang Garuda berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan.
Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan level Rp18.000 per dolar AS kini sudah berada “di depan mata”. Ia bahkan memperingatkan pelemahan rupiah bisa berlanjut hingga Rp18.200 apabila tekanan pasar terus terjadi.
“Kalau Rp18.000 ini tembus, kemungkinan besar akan menuju Rp18.200,” ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah bukan hanya dipicu faktor teknikal maupun kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga dipengaruhi persoalan struktural ekonomi nasional. Salah satu yang disoroti adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, khususnya minyak mentah.
Ibrahim menjelaskan, asumsi harga minyak dan kurs rupiah dalam APBN saat ini dinilai sudah jauh dari kondisi riil di lapangan. Ketika harga minyak dunia naik di atas US$90 per barel dan kurs rupiah melemah mendekati Rp17.900 per dolar AS, pemerintah disebut harus mengeluarkan dolar dalam jumlah besar untuk kebutuhan impor dan subsidi energi.
“Impor minyak mentah ini sebagian besar masuk subsidi. Ini menjadi tekanan besar terhadap defisit pemerintah,” katanya.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan dolar di pasar domestik, terutama untuk pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing. Menurut Ibrahim, kondisi tersebut memperbesar arus keluar dolar dari dalam negeri.
“Sudah kita kekurangan dolar, ditambah beban pembagian dividen kepada investor asing. Ini membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar,” ujarnya.
Tak hanya faktor domestik, pergeseran investasi global juga disebut mempengaruhi nilai tukar rupiah. Ibrahim menilai banyak investor mulai memindahkan aset dari emas ke dolar AS karena dinilai lebih menguntungkan di tengah penguatan indeks dolar.
Sementara itu, kebijakan pemerintah terkait rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) juga disebut menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan investor asing.
Meski dinilai memiliki tujuan jangka panjang yang baik untuk menekan kebocoran ekspor ilegal, Ibrahim menilai kebijakan tersebut muncul di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha, khususnya perusahaan tambang yang telah memiliki kontrak ekspor jangka panjang.
Senada dengan Ibrahim, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, juga memprediksi pelemahan rupiah masih akan berlanjut.
Menurut Bhima, jika level Rp18.000 berhasil ditembus, maka tekanan psikologis pasar dapat mendorong rupiah bergerak lebih cepat menuju Rp19.000 per dolar AS.
“Setelah Rp18.000 ditembus, pelemahannya bisa jauh lebih cepat karena batas psikologis pasar sudah jebol,” kata Bhima.
Ia menilai sentimen negatif investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor utama melemahnya rupiah. Salah satunya terkait kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI yang diumumkan secara cepat tanpa sosialisasi luas kepada pelaku usaha.
“Perubahan kebijakan yang terlalu cepat menimbulkan persepsi ketidakpastian regulasi dan menurunkan minat investasi di Indonesia,” jelasnya.
Bhima juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional, termasuk potensi pelebaran defisit APBN akibat meningkatnya subsidi energi dan pembiayaan sejumlah program pemerintah.
Menurutnya, pelaku pasar saat ini masih mencermati efektivitas program-program strategis pemerintah yang membutuhkan anggaran besar di tengah tekanan ekonomi global.
