AS Buka Peluang Lanjutkan Konflik dengan Iran, Kesepakatan Damai Masih Belum Pasti
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth
AS, Satuju.com – Amerika Serikat membuka kemungkinan melanjutkan konflik dengan Iran di tengah ketidakjelasan nasib kesepakatan damai yang sedang dirundingkan kedua negara.
Sinyal tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, saat menghadiri konferensi tingkat tinggi pertahanan di Asia, Sabtu (30/5/2026). Ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat masih memiliki kemampuan dan persediaan yang memadai apabila kembali menghadapi konflik dengan Teheran.
“Kami lebih dari mampu, persediaan kami lebih dari cukup untuk itu, baik di sana maupun di seluruh dunia karena bagaimana kami menyeimbangkan amunisi yang canggih dan lebih melimpah,” kata Hegseth.
Ia menambahkan bahwa posisi militer Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi yang sangat siap menghadapi berbagai kemungkinan perkembangan situasi.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang menyatakan pasukan AS tetap siaga dan mempertahankan kehadiran militernya di seluruh kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, pada Kamis lalu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Kedua negara juga sepakat memulai pembahasan terkait program nuklir Iran sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.
Meski demikian, proposal tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS, Donald Trump, yang tetap bersikeras agar Iran menghentikan seluruh pengembangan senjata nuklir.
“Iran harus setuju mereka tidak akan pernah memiliki senjata atau bom nuklir. Selat Hormuz segera dibuka tanpa biaya tol untuk lalu lintas pelayaran tanpa batasan di kedua arah,” ujar Trump.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh ranjau laut yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional harus dimusnahkan.
Media setempat melaporkan Trump menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasionalnya di Gedung Putih pada Jumat untuk membahas hasil negosiasi terbaru dengan Iran. Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan final.
Salah satu sumber yang mengetahui jalannya pertemuan menyebut Trump tetap berpegang pada satu prinsip utama, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir.
Sejak awal perundingan, Washington memang menjadikan pelucutan program nuklir Iran sebagai syarat utama. Namun, pemerintah Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklir mereka hanya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan pembahasan terakhir dengan Amerika Serikat lebih difokuskan pada upaya mengakhiri konflik, sementara isu nuklir akan dibicarakan setelah situasi benar-benar kondusif.
Sikap serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menegaskan negaranya tidak akan mengambil langkah tambahan sebelum melihat tindakan konkret dari pihak Amerika Serikat.
“Tidak akan ada langkah selanjutnya sebelum pihak lain bertindak. Kita tidak mendapat konsesi melalui pembicaraan, tetapi melalui rudal,” tegas Ghalibaf.
Pernyataan kedua belah pihak menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata masih berlangsung, perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran tetap menjadi hambatan utama dalam upaya mencapai perdamaian jangka panjang antara Washington dan Teheran.
