Peringatan Ekonomi Indonesia Memanas, Prof Ferry Latuhihin Bersitegang dengan Boni Hargens di Siaran Langsung

Ketika sang Prof Ferry Latuhihin memberikan skak Mat.(poto/ist/Andrian Saputra)

Prof Ferry Latuhihin dan Boni Hargens berdebat soal kondisi ekonomi Indonesia dalam siaran langsung. Soroti inflasi hingga kebijakan fiskal.

Satuju.com - Peringatan ekonomi Indonesia menjadi sorotan dalam program talkshow "Rakyat Bersuara" ketika analis pasar modal senior Prof Ferry Latuhihin terlibat perdebatan sengit dengan pengamat politik Boni Hargens saat membahas kondisi ekonomi nasional.

Perdebatan terjadi ketika Prof Ferry memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius. Namun, penjelasan tersebut beberapa kali dipotong oleh Boni Hargens yang menilai penyampaian kondisi ekonomi secara berlebihan berpotensi memicu kepanikan publik.

"Jangan bikin panik lah masyarakat. Kalau panik, nanti ekonomi rakyat hancur..." ujar Boni Hargens dalam diskusi tersebut.

Menanggapi pernyataan itu, Prof Ferry menegaskan bahwa pandangannya didasarkan pada data dan penilaian lembaga pemeringkat internasional.

"Loh..Ini bukan saya yang bikin panik ..ini kan Moody's dan Fitch Ratings, sudah me-retingnya ya," sanggahnya.

Boni kembali menilai kondisi ekonomi nasional masih berada dalam situasi yang aman. "Seakan-akan negara kita udah genting, gak lah ...ekonomi kita baik baik saja," katanya.

Prof Ferry kemudian menegaskan posisinya sebagai ekonom independen yang tidak terafiliasi dengan kepentingan politik tertentu.

"Saya nggak bisa berbaik-baik aja. Lihat saya seorang ekonom, saya tidak berpartisipasi politik, tidak berpihak kepada siapapun juga..ya. Anda boleh cek apakah saya terkait dengan partai politik?" tegasnya.

Ia menambahkan bahwa seorang ekonom harus berbicara berdasarkan fakta dan angka yang tersedia.

"Kalau numbers mengatakan tiga, apakah saya harus bilang lima? Ini kan lucu!" ujarnya.

Perdebatan berlanjut ketika Boni menyebut inflasi Indonesia masih dalam batas normal. Pernyataan itu langsung dibantah Prof Ferry dengan mengacu pada data yang menurutnya menunjukkan tekanan ekonomi mulai meningkat.

"Inflasi udah empat setengah persen, Bos! Itu dua persen di atas range dua setengah persen Dan kita lihat juga semua orang di BBM ngantri..." katanya.

Saat Boni kembali menyatakan ekonomi masih dalam kondisi baik, Prof Ferry menunjukkan keberatannya karena merasa analisanya terus dipotong.

"No, no, no! Jangan mengatur saya-saya bekerja...saya bekerja dengan numbers betul!" sergahnya.

Boni kemudian mengingatkan potensi dampak psikologis jika masyarakat terlalu khawatir terhadap kondisi ekonomi.

"Dampaknya gini Pak.. nih kalau ada kepanikan, takutnya orang-orang kaya, cabut uang dari bank lalu pindah ke Emas apa gak resesi kita ini," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Prof Ferry menegaskan dirinya tidak pernah mendorong masyarakat menarik dana dari sistem perbankan, melainkan meminta pemerintah mengambil langkah kebijakan yang tepat.

"Loh ..loh saya cuma men-suggest bikin kebijakan yang baik, tidak men-suggest Anda harus keluar dari Indonesia... saya nggak bisa mengatakan ekonomi kita baik-baik aja," katanya.

Ia juga mengaku telah mengingatkan pemerintah sejak setahun terakhir mengenai risiko yang muncul jika sejumlah persoalan ekonomi tidak segera ditangani.

"Ingat loh, saya berkata bahwa 'you should be cautious' udah dari setahun yang lalu, ya kan bukan baru sekarang, Bos! Tapi kenapa pemerintah tidak mendengarkan? Kan itu problemnya sekarang karena mereka tidak mendengarkan," ujarnya.

Menjelang akhir diskusi, moderator meminta Prof Ferry menyampaikan solusi yang dinilai perlu dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi.

"Udah sering saya bilang...jaga fiskal sustainability, ya bukan minjem utang tapi cut spending yang tidak perlu... ini udah berkali-kali saya katakan...gitu loh, Oke," pungkasnya.

Perdebatan tersebut menjadi perhatian publik karena memperlihatkan perbedaan pandangan antara pendekatan berbasis data ekonomi dan kekhawatiran terhadap dampak psikologis yang dapat muncul di tengah masyarakat.