Kritik Dino Patti Djalal Dijawab Teddy, Istana Beberkan Biaya dan Jumlah Rombongan Prabowo

Siapa lebih *Hemat" Dalam Diplomasi? (poto AI/Andrian Saputra)

Teddy Indra Wijaya menjawab kritik Dino Patti Djalal terkait kunjungan luar negeri Presiden Prabowo, mulai dari biaya hingga jumlah rombongan.

JAKARTA, Satuju.com - Kritik Dino Patti Djalal terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto mendapat respons langsung dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Istana menegaskan sejumlah tudingan terkait biaya perjalanan dan besarnya rombongan presiden tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri tersebut menyoroti intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo. Melalui media sosial, Dino menyebut kepala negara menghabiskan porsi waktu yang cukup besar untuk agenda diplomasi internasional dan menyarankan agar sebagian pertemuan dilakukan secara virtual.

Menanggapi hal itu, Teddy menjelaskan bahwa biaya tambahan di luar anggaran resmi negara selama kunjungan Presiden ditanggung secara pribadi oleh Prabowo.

"Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," tegas Teddy dalam klarifikasinya, Senin (1/6/2026).

Menurut Teddy, kebijakan tersebut memastikan tidak ada pembebanan tambahan kepada APBN untuk kebutuhan di luar alokasi yang telah ditetapkan negara.

Selain soal biaya, Dino juga menyoroti jumlah rombongan yang ikut dalam setiap perjalanan luar negeri Presiden. Teddy membantah anggapan tersebut dan menyebut jumlah delegasi saat ini justru lebih efisien dibandingkan periode sebelumnya.

"Jadi kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu," ungkap Teddy.

Ia menyebut jumlah rombongan yang mendampingi Presiden Prabowo saat melakukan kunjungan luar negeri berkisar antara 50 hingga 60 orang.

Terkait usulan diplomasi virtual, Teddy menilai pertemuan langsung antar kepala negara tetap memiliki nilai strategis yang tidak bisa digantikan teknologi komunikasi.

Menurutnya, situasi global yang diwarnai berbagai konflik dan ketegangan geopolitik menuntut para pemimpin dunia membangun hubungan personal yang kuat. Hubungan tersebut dinilai penting untuk mendukung kepentingan nasional Indonesia di masa mendatang.

"Setiap pemimpin harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia," ujar Teddy.

Ia menambahkan, kedekatan personal antarpemimpin dapat menjadi modal diplomatik ketika Indonesia membutuhkan dukungan internasional dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Meski memberikan bantahan terhadap sejumlah kritik, Teddy tetap menyampaikan apresiasi kepada Dino Patti Djalal. Ia menilai masukan yang disampaikan mantan diplomat tersebut cermat dan terstruktur serta layak menjadi bahan evaluasi pemerintah.

Perdebatan mengenai efektivitas kunjungan luar negeri Presiden dan efisiensi penggunaan anggaran pun masih menjadi perhatian publik. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh agenda diplomasi dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan strategis nasional.


BERITA TERKAIT