Jembatan Ambruk di Aceh Barat, Orang Tua Terobos Sungai Antar Anak Sekolah
Di Desa Cangai dan Desa Jambak, Aceh Barat.(poto/ist/Lhynaa Marlynaa)
Jembatan ambruk di Aceh Barat memaksa orang tua menggendong anak menyeberangi sungai setiap hari demi bisa bersekolah.
ACEH BARAT, Satuju.com - Jembatan ambruk di Aceh Barat memaksa warga mencari cara agar aktivitas pendidikan tetap berjalan. Setiap pagi, para orang tua di Desa Cangai dan Desa Jambak harus menyeberangi sungai demi mengantar anak-anak mereka ke sekolah.
Kerusakan jembatan gantung yang sebelumnya menjadi akses utama terjadi setelah diterjang banjir. Sejak saat itu, sungai menjadi jalur tercepat yang dipilih warga untuk menuju SD Negeri Alue Lhok.
Pemandangan perjuangan warga terlihat di tepian sungai. Sejumlah orang tua memasukkan seragam sekolah ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Sebagian lainnya membawa tas sekolah di pundak sambil menggandeng anak-anak mereka sebelum menyeberang.
Bahkan, tidak sedikit orang tua yang harus menggendong anak demi melewati arus sungai dengan aman. Langkah itu dilakukan agar anak-anak tetap bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sungai yang menjadi jalur penyeberangan memiliki lebar sekitar 50 meter. Kedalaman air di beberapa titik diperkirakan mencapai satu meter, dengan ketinggian yang berkisar antara pinggang hingga dada orang dewasa.
Meski terdapat jalur alternatif, warga menilai akses tersebut kurang efektif karena jaraknya cukup jauh. Pengendara sepeda motor harus memutar sekitar delapan kilometer, sedangkan kendaraan roda empat harus melewati Desa Lango dengan jarak tempuh mencapai 11 kilometer.
Karena alasan itu, banyak warga tetap memilih menyeberangi sungai secara langsung, terutama ketika debit air masih berada pada kondisi yang dianggap aman.
Warga berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung yang rusak. Bagi masyarakat setempat, keberadaan jembatan tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga menjadi akses penting bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan.
Di tengah keterbatasan yang ada, semangat belajar anak-anak di pedalaman Aceh Barat tetap bertahan. Mereka terus berjuang menuntut ilmu meski harus menghadapi risiko dan tantangan setiap hari akibat putusnya akses penghubung utama.
