Tumpukan Sampah Pasar Batang Toru Menggunung, Warga Desak Pemkab Bertindak Cepat

Tumpukan sampah di Pasar Batang Toru dikeluhkan warga dan pedagang.(poto/ist)

BATANG TORU, Satuju.com - Tumpukan sampah Pasar Batang Toru kembali menjadi sorotan warga setelah sampah yang menumpuk selama beberapa hari belum juga diangkut. Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat dan pedagang karena menimbulkan bau tidak sedap serta mengganggu aktivitas di kawasan pasar, Sabtu (13/6/2026).

Salah seorang warga, Aswat Nur, mengatakan persoalan sampah di Pasar Batang Toru bukanlah masalah baru. Menurutnya, keluhan terkait pengelolaan sampah sudah berulang kali disampaikan warga maupun pedagang setempat.

Ia menyebut tumpukan yang terlihat saat ini merupakan akumulasi sampah selama empat hari yang belum diangkut oleh petugas.

"Mengganggu lah karena sudah mulai keluar aroma bau busuk, para pembeli juga akan merasa jijik dan berdampak sama pedagang sekitar pasar," jelasnya.

Aswat menilai keberadaan sampah yang berserakan dapat merusak citra Pasar Batang Toru di mata masyarakat. Ia juga menyoroti pengangkutan sampah yang dinilai belum dilakukan secara rutin, sehingga volume sampah terus bertambah setiap hari.

"Iya tidak menentu juga pengangkutannya, kadang beberapa hari sekali, kadang mau juga tiap hari. Sementara pembuangan sampah terus berlangsung setiap harinya. Jika dibiarkan, akan menumpuk dan bau," ujarnya.

Sebagai warga Batang Toru, ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar persoalan serupa tidak terus berulang.

"Aswat menginginkan solusi dan respon cepat dari Pemerintah agar kejadian ini tidak berulang - ulang terjadi lagi," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berdampak pada kenyamanan anak-anak yang kerap bermain di sekitar kawasan pasar.

"Apalagi anak-anak banyak yang bermain disini. Dari aroma busuk yang mulai menyengat membuat anak-anak tentu tidak nyaman untuk bermain," tambahnya.

Berdasarkan pantauan warga, sebagian besar sampah yang menumpuk berasal dari sisa sayuran dan buah-buahan. Sampah organik tersebut menimbulkan aroma menyengat karena tidak segera diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup Daerah belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Mahyuddin Ritonga, melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.


BERITA TERKAIT