Uzbekistan Bangun PLTN Pertama, Indonesia Pacu Target Nuklir 2032
Foto AI hanya ilustrasi, Uzbekistan Letak baru pertama PLTN, Indonesia akan menyusul.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) semakin menjadi pilihan sejumlah negara untuk memperkuat ketahanan energi. Uzbekistan kini melangkah lebih cepat dengan memulai pembangunan PLTN pertamanya, sementara Indonesia masih menyiapkan berbagai tahapan menuju target operasional pada 2032.
Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, meresmikan pembangunan proyek PLTN pertama negaranya pada 4 Juni 2026. Proyek yang disebut sebagai salah satu investasi energi terbesar dalam sejarah Uzbekistan itu diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi, meningkatkan keamanan pasokan listrik, dan memperkuat sektor industri nasional.
Mirziyoyev menegaskan pembangunan fasilitas tersebut merupakan hasil kajian panjang yang telah dilakukan pemerintah selama bertahun-tahun.
“Kami telah bekerja menuju tahap ini dalam waktu yang lama, mendiskusikannya secara mendalam, dan akhirnya sampai pada keputusan yang kami yakini sebagai pilihan yang tepat,” ujarnya.
PLTN pertama Uzbekistan mengusung konsep hibrida dengan menggabungkan reaktor berkapasitas besar dan Small Modular Reactor (SMR) dalam satu kawasan pembangkit.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah stasiun hibrida dibangun dengan dua unit kecil dan dua unit besar,” kata Mirziyoyev.
Pemerintah Uzbekistan menilai energi nuklir akan menjadi pilar penting dalam transformasi ekonomi nasional. Selain menghasilkan listrik rendah emisi, teknologi ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Direktur Afrika dan Timur Tengah Program Nuclear Business Platform (NBP), Ibrahim Ababou, menilai proyek tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
“Nuklir mengubah seluruh persamaan. Sebanyak 17 miliar kWh per tahun dari satu lokasi. Lima belas persen konsumsi nasional dapat dipenuhi dari satu fasilitas. Dan yang paling penting, tercipta surplus listrik domestik yang memungkinkan gas alam dialihkan untuk ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Ababou, keberhasilan proyek PLTN Uzbekistan berpotensi menjadi acuan bagi negara-negara Asia Tengah lainnya yang tengah menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan energi.
“Jika model hibrida Jizzakh berhasil, maka Kirgizstan, Tajikistan, dan Azerbaijan akan mengamatinya dengan sangat serius. Dekade nuklir Asia Tengah baru saja dimulai,” katanya.
Sementara itu, Indonesia masih berada pada tahap persiapan program nuklir nasional. Pemerintah telah memasukkan PLTN ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi dan pengurangan emisi karbon.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah menargetkan PLTN pertama Indonesia dapat terhubung ke jaringan listrik pada 2032 dengan kapasitas awal 500 Megawatt (MW).
“Target tercepat kita adalah on-grid dan commissioning pada 2032. Dalam perencanaan nuklir saat ini, tahap awal akan dikembangkan sebesar 500 MW,” jelas Eniya.
Selain menjalin kerja sama dengan sejumlah negara penyedia teknologi nuklir, pemerintah juga terus mematangkan pembentukan Nuclear Energy Programme Implementation Organization (NEPIO) yang direkomendasikan oleh International Atomic Energy Agency untuk mengoordinasikan program pengembangan energi nuklir nasional.
