Tausiyah Tahun Baru Islam: Pesan Hijrah yang Menyentil Praktik Korupsi
Foto AI hanya ilustrasi, YANG SUKA KORUPSI ADA BAIKNYA BACA TAUSIYAH INI.(poto/ist/Rosadi jamani)
Satuju.com - Tausiyah Tahun Baru Islam kembali menjadi perhatian pada momentum 1 Muharram 1448 Hijriah. Di tengah semangat hijrah yang digaungkan umat Muslim, sebuah pesan keagamaan dari Ustaz Harjani Hefni mengingatkan pentingnya memperbaiki kualitas hidup sekaligus menjauhi berbagai bentuk penyimpangan, termasuk korupsi.
Ustaz Harjani Hefni merupakan dosen IAIN Pontianak, alumni Pondok Pesantren Ushuluddin Singkawang, lulusan Universitas Islam Madinah, serta doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam tausiyahnya, ia menekankan lima bidang perbaikan yang perlu menjadi arah hijrah setiap Muslim pada tahun baru Islam.
Lima bidang tersebut meliputi perbaikan agama, perbaikan kehidupan dunia, perbaikan akhirat, memperbanyak kebaikan, serta menjauhi fitnah dan keburukan.
Pada aspek perbaikan agama, umat diajak meningkatkan keikhlasan dalam beramal dan memperdalam pemahaman terhadap syariat Islam. Menurutnya, hijrah tidak cukup hanya ditunjukkan melalui simbol atau ucapan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Sementara pada aspek perbaikan dunia, Ustaz Harjani mengingatkan pentingnya mencari rezeki yang halal, membangun keluarga yang baik, dan menjalani kehidupan yang penuh keberkahan. Pesan ini dinilai relevan di tengah berbagai kasus penyalahgunaan jabatan dan praktik korupsi yang masih terjadi.
Selain itu, umat juga didorong untuk memperkuat orientasi akhirat dengan memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan diri menuju husnul khatimah. Kehidupan dunia, menurutnya, tidak boleh membuat seseorang melupakan tanggung jawab spiritual.
Dalam poin berikutnya, Ustaz Harjani mengajak masyarakat memanfaatkan waktu untuk memperbanyak kebaikan dan menghindari aktivitas yang tidak memberikan manfaat. Setiap kesempatan, kata dia, seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Poin terakhir menekankan pentingnya menjauhi fitnah serta berbagai perbuatan yang merusak kehidupan sosial. Semakin bertambah usia, seseorang seharusnya semakin berhati-hati dalam bertindak dan menjauhi perilaku yang dapat merugikan orang lain.
Pesan tersebut mendapat perhatian karena dikaitkan dengan fenomena korupsi yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Momentum Muharram dinilai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
Dalam refleksi yang disampaikan penulis Rosadi Jamani, hijrah bukan sekadar perpindahan waktu dalam kalender, melainkan perubahan sikap dari perilaku buruk menuju kebaikan, dari sifat rakus menjadi amanah, serta dari penyalahgunaan kekuasaan menuju tanggung jawab yang lebih besar kepada masyarakat dan Tuhan.
Ia menutup tulisannya dengan sindiran yang mengundang senyum sekaligus renungan.
"Bang, bahaya juga kalau semua koruptor tobat, KPk pasti bubar. Jaksa hanya nangani kasus kere."
"Betul juga, wak. KPK bubar, tanda berakhirnya negeri ini dikuasai koruptor."
