Soe Tjen Marching Kritik Sistem yang Dianggap Masih Menjajah Indonesia
Soe Tjen Marching.(poto/ist/Andrian Saputra)
Soe Tjen Marching menilai Indonesia masih dijajah secara sistemik. Akademisi SOAS London itu menyampaikan kritik saat aksi demonstrasi di Surabaya.
Satuju.com - Soe Tjen Marching kritik sistem yang dianggap masih menjajah Indonesia saat berorasi dalam aksi demonstrasi di Surabaya. Akademisi dan aktivis tersebut menyoroti dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat kecil serta mengkritik narasi yang menurutnya menyesatkan publik.
Dalam pidatonya, Soe Tjen membuka argumen dengan menyinggung penggunaan dolar dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
"Orang desa tak pakai dolar," ujarnya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kenaikan nilai dolar justru tidak terlalu dirasakan oleh kelompok yang telah memiliki aset dalam bentuk mata uang asing maupun emas.
"Ya..memang justru yang pakai dolar itu yang gak terasa kalau dolar naik. Kenapa?" tanyanya.
"Karena yang pakai dolar itu sudah punya tumpukan dolar, sudah punya tabungan dolar, sudah punya tabungan emas misalnya. Jadi kalau dolar naik, emas naik, mereka nggak tambah susah, mereka tambah seneng," lanjutnya.
Menurut Soe Tjen, kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap aset tersebut justru menjadi pihak yang paling merasakan dampak kenaikan nilai tukar.
"Ya, yang nggak pakai dolar ini loh, yang tambah menderita. Kalian-kalian ini kalau beli kan nggak pakai dolar, tapi kalau dolar naik kalian merasakan,kan?" katanya.
Ia juga mengkritik penggunaan bahasa propaganda yang dinilai mampu membentuk cara pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan ekonomi dan politik.
"Itulah bahasa-bahasa yang harus kita amati, yaitu bahasa-bahasa propaganda yang akhirnya berhasil mengecoh budak-budak lainnya," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Soe Tjen menyampaikan pandangannya bahwa Indonesia hingga kini masih menghadapi bentuk penjajahan yang berbeda dari masa kolonial.
"Saya sendiri merasa sebagai budak masih seperti ini, karena negara ini masih dijajah, bagi saya. Masih ada penjajah. Kita belum mengusir penjajah. Kita sudah mengusir Belanda, kita sudah mengusir Jepang, tapi penjajahnya masih ada di sini. Sistemnya masih sama," tegasnya.
Soe Tjen Marching dikenal sebagai akademisi, penulis, sekaligus aktivis Indonesia yang saat ini mengajar sebagai dosen senior di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London. Lahir di Surabaya pada 23 April 1971, ia menyelesaikan studi doktoralnya di Monash University, Australia, dengan fokus Kajian Asia Tenggara.
Selain aktif di dunia akademik, Soe Tjen juga produktif menulis buku yang membahas isu gender, sejarah, dan politik Indonesia, termasuk peristiwa 1965. Ia turut dikenal sebagai komponis musik kontemporer dan pendiri Majalah Bhinneka yang mendorong diskusi kritis mengenai isu sosial, politik, dan kemanusiaan.
Latar belakang keluarganya turut memengaruhi karya dan aktivismenya. Soe Tjen pernah mengungkap pengalaman ayahnya yang menjadi tahanan politik pasca-peristiwa 1965, yang kemudian banyak mewarnai tulisan serta pandangan kritisnya terhadap berbagai persoalan sosial di Indonesia.
