ADAB MAHASISWA DAN PEJABAT

Polemik Adab Mahasiswa Menguat, Kritik Publik Bergeser ke Etika Pejabat

Foto AI hanya ilustrasi, TIBA-TIBA RAMAI BICARA ADAB.(poto/ist/Rosadi Jamani)

Perdebatan soal adab mahasiswa saat demonstrasi memicu kritik balik terhadap etika pejabat dan penggunaan kekuasaan di ruang publik.

Satuju.com - Adab mahasiswa dan pejabat menjadi perbincangan luas setelah gelombang aksi mahasiswa di berbagai daerah kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Demonstrasi yang diwarnai penolakan terhadap sejumlah pejabat pemerintah memunculkan perdebatan baru mengenai batas antara kritik publik dan etika dalam menyampaikan aspirasi.

Sorotan menguat setelah sejumlah mahasiswa menyuarakan protes secara terbuka kepada pejabat negara. Di Yogyakarta, tiga menteri dikabarkan menghentikan agenda dialog lebih awal setelah mendapat penolakan dari peserta aksi.

Peristiwa tersebut kemudian memicu reaksi beragam di media sosial. Sebagian pihak menilai mahasiswa perlu menjaga kesopanan saat menyampaikan kritik. Namun, sebagian lainnya menilai fokus perdebatan justru bergeser dari substansi tuntutan yang disampaikan demonstran.

Narasi mengenai adab dinilai muncul secara masif ketika aksi mahasiswa berlangsung. Kritik yang berkembang mempertanyakan mengapa etika demonstran lebih sering menjadi perhatian dibanding persoalan yang menjadi alasan lahirnya aksi tersebut.

Dalam sebuah tulisan opini yang ramai diperbincangkan, penulis menyoroti fenomena itu dengan nada satir. Ia menggambarkan bagaimana isu adab mendadak menjadi pembahasan utama ketika mahasiswa melakukan protes.

"Mahasiswa harus sopan."

"Mahasiswa harus santun."

"Mahasiswa harus menghormati pejabat."

Menurut penulis, perdebatan mengenai etika semestinya tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa. Ia menilai adab juga berkaitan dengan tanggung jawab pejabat dalam menjalankan amanah publik, menjaga kejujuran, serta memastikan kebijakan berpihak kepada masyarakat.

Tulisan tersebut juga menyinggung persoalan korupsi, ketimpangan sosial, hingga kritik terhadap praktik kekuasaan yang dinilai tidak mencerminkan kepentingan rakyat. Penulis mempertanyakan mengapa kemarahan publik terhadap mahasiswa kerap lebih besar dibanding respons terhadap berbagai persoalan tata kelola pemerintahan.

"Masalahnya, adab bukan hanya soal cara berbicara. Adab juga soal amanah. Adab juga soal tidak berbohong kepada rakyat. Adab juga soal tidak menjadikan jabatan sebagai mesin pencetak kekayaan pribadi. Adab juga soal tidak menggarong masa depan jutaan orang demi kenyamanan segelintir elite."

Pandangan tersebut memunculkan diskusi lebih luas mengenai makna adab dalam kehidupan demokrasi. Sejumlah kalangan menilai etika memang penting dalam menyampaikan kritik, namun akuntabilitas penyelenggara negara juga harus menjadi bagian dari pembahasan yang seimbang.

Di tengah perdebatan itu, muncul pula komentar bernada ringan yang menyoroti ruang diskusi masyarakat di warung kopi.

"Bang, satu-satunya yang paling beradab itu di warkop. Semua happy, ngomong bebas dan lepas."

"Setuju, wak. Makanya saya sering ngajak nuan seruput Koptagul di warkop Jalan Merapi." Ups

Perdebatan mengenai adab mahasiswa dan pejabat diperkirakan masih akan berlanjut seiring meningkatnya dinamika kritik publik terhadap kebijakan pemerintah serta ruang demokrasi di Indonesia.


BERITA TERKAIT