Debat Program Makan Bergizi, Fatimah BEM UI Sentil Prioritas Pemerintah
Foto AI hanya ilustrasi, Bagaimana bisa fokus pada "Makanan bergizi" Jika sekolah belum bisa dijangkau. (poto/ist/Andrian Saputra)
Debat Program Makan Bergizi antara Fatimah Azzahra dan Bahtra Banong memunculkan kritik soal prioritas pemerintah terhadap akses pendidikan.
Satuju.com - Debat Program Makan Bergizi (MBG) menjadi sorotan setelah Wakil Ketua BEM UI, Fatimah Azzahra, beradu argumentasi dengan Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, dalam diskusi yang berlangsung di studio CNN Indonesia. Keduanya membahas efektivitas program MBG dan prioritas kebijakan pemerintah dalam menjawab persoalan pendidikan di daerah terpencil.
Bahtra Banong menilai program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan yang memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Ia mengisahkan kondisi anak-anak di kampung halamannya di Sulawesi Tenggara yang harus berangkat sekolah dalam keadaan lapar dan bahkan menyeberang menggunakan perahu.
Menurut Bahtra, pemberian makanan bergizi menjadi langkah penting agar anak-anak dapat belajar dengan baik. Ia menegaskan berbagai persoalan yang muncul dalam pengelolaan program tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan MBG.
"Kalau ada masalah dalam pengelolaan, maka yang diperbaiki adalah tata kelolanya, bukan programnya," tegas Bahtra.
Namun, Fatimah Azzahra memilih menyoroti persoalan dari sudut yang berbeda. Mahasiswi kedokteran itu tidak membantah pentingnya bantuan gizi bagi anak-anak, tetapi menilai pemerintah harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.
Baginya, akses menuju sekolah menjadi persoalan yang lebih mendesak dibanding pemberian makan siang gratis.
"Saya tidak bisa membayangkan... anak-anak itu, mereka harus sedemikian rupa berusahanya sampai mungkin harus menyeberangi jembatan putus dan sebagainya untuk sampai ke sekolah," ujarnya.
Fatimah kemudian mengibaratkan program MBG sebagai kebutuhan tambahan yang seharusnya diberikan setelah kewajiban dasar negara terpenuhi.
"Nah, saya rasa sebelum kita memberikan yang sunnahnya begitu ya, yang tambahan-tambahannya... apa yang wajib-wajib dan standarnya perlu dipenuhi dulu gitu," lanjutnya lagi.
Menurutnya, program makan bergizi tidak akan berjalan optimal apabila akses pendidikan di daerah tertinggal masih bermasalah. Ia mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut jika anak-anak masih menghadapi kesulitan untuk mencapai sekolah dengan aman.
Perdebatan tersebut menarik perhatian publik karena memperlihatkan dua sudut pandang berbeda. Bahtra Banong menekankan pentingnya manfaat langsung program MBG bagi masyarakat, sementara Fatimah Azzahra menyoroti akar persoalan yang lebih mendasar, yakni pemerataan fasilitas dan akses pendidikan.
Diskusi itu pun memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai arah prioritas kebijakan pemerintah, antara memberikan solusi jangka pendek melalui program bantuan atau menyelesaikan persoalan infrastruktur dan akses pendidikan secara menyeluruh.
