Program Nuklir Dipercepat, Bangka Belitung Kembali Jadi Kandidat Kuat PLTN Pertama
Sidang Anggota DEN 2026.(poto/ist)
JAKARTA, Satuju.com - Program PLTN Bangka Belitung kembali mendapat sorotan setelah pemerintah mempercepat pengembangan energi nuklir nasional sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sidang Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ke-2 dan ke-3 Tahun 2026 yang dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Pemerintah menilai ketahanan energi kini tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi juga menyangkut aspek pertahanan dan kedaulatan nasional. Konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang mendorong percepatan langkah tersebut.
“Indonesia berhasil melewati berbagai tantangan pada masa transisi dan kini berada pada posisi yang semakin kuat dalam menjaga ketahanan energi nasional,” kata Bahlil.
Selain memperkuat cadangan energi nasional dan harmonisasi regulasi penanganan krisis, DEN juga mematangkan pengembangan energi baru, termasuk tenaga nuklir.
Salah satu keputusan strategis dalam sidang tersebut ialah mempercepat pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO). Lembaga ini akan menjadi pelaksana utama persiapan program nuklir nasional sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Keberadaan NEPIO menandai bahwa program nuklir Indonesia mulai memasuki tahap yang lebih konkret. Lembaga tersebut akan mengoordinasikan kesiapan regulasi, teknologi, keselamatan, serta tata kelola sesuai standar International Atomic Energy Agency (IAEA).
Bagi Bangka Belitung, perkembangan ini membuka kembali peluang menjadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia.
Sejak lama, wilayah pesisir Kabupaten Bangka Barat dan sejumlah kawasan lainnya telah masuk dalam kajian Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebelum bergabung ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejumlah penelitian menunjukkan kondisi geologi Pulau Bangka relatif stabil, jauh dari gunung api aktif dan minim aktivitas seismik besar.
Jika proyek tersebut terealisasi, Bangka Belitung berpotensi menjadi pusat energi bersih sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi mineral dan teknologi tinggi. Kehadiran PLTN juga diperkirakan mampu menarik investasi baru serta menciptakan lapangan kerja berbasis keahlian.
Percepatan program nuklir menunjukkan perubahan arah kebijakan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional sekaligus mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Apabila seluruh tahapan regulasi, kajian teknis, dan penerimaan masyarakat berjalan sesuai rencana, Negeri Serumpun Sebalai berpeluang mencatat sejarah sebagai lokasi berdirinya PLTN pertama di Tanah Air.
