Tiyo Ardianto Sampaikan Kritik Sosial Lewat Puisi “Orang Baik”

Tiyo Ardianto. (poto/ist)

Yogyakarta, Satuju.com – Di tengah dinamika politik nasional dan derasnya arus kritik sosial yang mewarnai ruang publik, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, memilih menyampaikan refleksinya melalui karya sastra.

Melalui puisi berjudul “Orang Baik”, Tiyo menghadirkan pesan moral yang mengajak masyarakat untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kebaikan di tengah berbagai tantangan kehidupan. Karya tersebut menjadi perhatian publik karena dinilai sarat makna dan relevan dengan kondisi sosial yang berkembang saat ini.

Berbeda dengan kritik yang disampaikan melalui orasi atau pernyataan politik, Tiyo memilih jalur yang lebih kontemplatif. Ia menggunakan puisi sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan agar nilai-nilai kemanusiaan, integritas, dan keberpihakan terhadap kebenaran tetap terjaga.

Dalam puisinya, Tiyo menggambarkan bahwa kebaikan tidak akan pernah benar-benar kalah oleh kejahatan. Ia juga menyoroti bagaimana orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai mulia sering kali harus menghadapi berbagai pengorbanan, namun tetap memilih untuk tidak kehilangan kemanusiaannya.

 “Orang Baik” karya Tiyo Ardianto:

Orang Baik

Orang baik, orang baik
Tak akan terluka karena kebaikan
Mustahil kebaikan dikalahkan oleh kejahatan

Orang baik memancarkan cahaya
Menerangi batin orang-orang baik lainnya
Saling menguatkan dalam diam

Sementara orang jahat silau
Terang yang ia ciptakan sendiri
Justru membutakan nuraninya

Mereka yang sepanjang usia memperjuangkan hal mulia
Harus rela tak mendapatkan apa-apa di dunia
Namun tetap memilih untuk tidak menjadi kejam

Karena orang baik tidak akan tega
Sekalipun dunia mengajarkan untuk menjadi sebaliknya.

Puisi tersebut dinilai sebagai refleksi mengenai pentingnya menjaga nurani dan prinsip moral di tengah berbagai persoalan sosial, politik, maupun kehidupan sehari-hari. Melalui rangkaian bait yang sederhana namun penuh makna, Tiyo mengajak pembacanya untuk tetap teguh dalam kebaikan meskipun menghadapi berbagai tekanan dan tantangan.

Karya tersebut juga menunjukkan bahwa kritik dan pesan sosial tidak selalu harus disampaikan melalui konfrontasi atau perdebatan. Sastra dapat menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan gagasan, membangun kesadaran, sekaligus mengetuk nurani publik secara lebih mendalam.

Di tengah situasi yang sering diwarnai perbedaan pandangan dan polarisasi, puisi “Orang Baik” hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai kejujuran, empati, dan kemanusiaan tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan bermasyarakat.


BERITA TERKAIT