Krisis Pasokan Batu Bara Picu Ancaman Pemadaman Listrik, Indonesia Justru Ekspor Jutaan Ton

Foto AI hanya ilustrasi, SETENGAH ASIA TERANG BERKAT BARU BARA KITA.(poto/ist/Rosadi Jamani)

Krisis pasokan batu bara memicu ancaman pemadaman listrik. Ironisnya, ekspor batu bara Indonesia ke berbagai negara tetap tinggi.

Satuju.com - Krisis pasokan batu bara kembali menjadi sorotan setelah laporan pemadaman listrik bergilir mulai muncul di sejumlah wilayah Pulau Jawa. Kondisi ini terjadi ketika Indonesia masih menjadi salah satu pemasok batu bara terbesar bagi berbagai negara di Asia.

Keluhan warga terkait listrik padam bermunculan dari sejumlah daerah, mulai dari Jabodetabek, Solo, Banjarnegara, Surabaya hingga Sidoarjo. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi nasional di tengah tingginya permintaan listrik.

PLN menjelaskan, cadangan batu bara di sebagian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sistem Jawa-Bali berada dalam kondisi kritis. Sekitar 60 hingga 70 persen PLTU tercatat memiliki stok di bawah batas aman tujuh hari operasi.

Kondisi itu diduga dipicu keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batu bara tahun 2026. Di saat yang sama, dua pembangkit besar milik Independent Power Producer (IPP) mengalami gangguan teknis sehingga keluar dari sistem kelistrikan.

Persoalan pasokan juga dipengaruhi perbedaan harga batu bara domestik dan pasar ekspor. Pemerintah menetapkan harga Domestic Market Obligation (DMO) sebesar US$70 per ton untuk kebutuhan dalam negeri. Sementara Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2026 mencapai US$121,83 per ton.

Akibat selisih harga tersebut, pasar ekspor dinilai lebih menarik bagi produsen. Dari kebutuhan batu bara PLN sekitar 154 juta ton per tahun, pasokan yang berhasil diamankan baru mencapai sekitar 134 juta ton. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 18 juta hingga 20 juta ton.

Data perdagangan Januari 2026 menunjukkan India menjadi pembeli terbesar batu bara Indonesia dengan volume mencapai 7,04 juta ton. Disusul China sebesar 6,36 juta ton, Filipina 3,16 juta ton, Korea Selatan 2,29 juta ton, Vietnam 2,15 juta ton, Jepang 2,12 juta ton, Malaysia 1,82 juta ton, Bangladesh 1,54 juta ton, Thailand 1,13 juta ton dan Taiwan sekitar 866 ribu ton.

Di tengah tingginya ekspor, sejumlah wilayah penghasil batu bara masih menghadapi keterbatasan akses listrik. Kalimantan Timur yang menyumbang sekitar 82 persen produksi nasional masih memiliki puluhan desa yang belum menikmati pasokan listrik optimal.

Di Kabupaten Paser, sekitar 10 persen rumah tangga belum tersambung jaringan listrik. Desa Muara Enggelam selama bertahun-tahun hanya mengandalkan genset beberapa jam setiap malam. Sementara Kalimantan Utara masih memiliki 123 desa dengan akses listrik yang belum memadai.

Pengamat sosial Rosadi Jamani menyoroti ironi tersebut melalui tulisannya. Ia menyebut paradoks energi di Indonesia sangat nyata.

"Mungkin inilah satu-satunya tempat di dunia di mana orang bisa berdiri di atas cadangan batu bara miliaran ton, melihat tongkang lewat setiap hari, lalu tetap bertanya kepada tetangga, 'Bang, listrik di rumah abang juga mati?'"

Tingginya ekspor batu bara di tengah ancaman pemadaman listrik dinilai menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan memastikan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas.